Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

Pasien di Inggris Derita Covid-19 Terlama Selama 505 Hari

Sabtu 23 Apr 2022 06:32 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Andri Saubani

Pasien Covid-19 (ilustrasi).

Pasien Covid-19 (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Dalam long Covid, diasumsikan virus telah dibersihkan tapi gejalanya tetap ada.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Seorang pasien Inggris dengan sistem kekebalan yang sangat lemah menderita Covid-19 selama hampir satu setengah tahun. Dia menjadi pasien terlama yang memiliki infeksi dari virus Corona.

"Ini jelas merupakan infeksi terlama yang dilaporkan," ujar ahli penyakit menular di Guy 's & St. Thomas NHS Foundation Trust Dr. Luke Blagdon Snell.

Baca Juga

Hingga saat ini tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti apakah itu adalah infeksi Covid-19 yang bertahan paling lama karena tidak semua orang dites, terutama secara rutin seperti kasus ini. Namun, tim Snell berencana untuk mempresentasikan beberapa kasus Covid-19 persisten pada pertemuan penyakit menular di Portugal akhir pekan ini.

Studi Snell menyelidiki mutasi mana yang muncul dan apakah varian berevolusi pada orang dengan infeksi super panjang. Ini melibatkan sembilan pasien yang dites positif terkena virus setidaknya selama delapan minggu.

Semua pasien itu memiliki sistem kekebalan yang melemah dari transplantasi organ, HIV, kanker, atau pengobatan untuk penyakit lain. Mereka melakukan res berulang dan menunjukkan infeksi  bertahan selama rata-rata 73 hari, bahkan dua pasien memiliki virus selama lebih dari setahun.

Sebelumnya, kata para peneliti, kasus terlama yang dikonfirmasi dengan tes PCR berlangsung 335 hari. Orang yang menderita Covid-19 yang persisten jarang terjadi dan berbeda dengan Covid-19 yang lama atau long Covid.

"Dalam Covid yang lama, umumnya diasumsikan virus telah dibersihkan dari tubuh Anda, tetapi gejalanya tetap ada. Dengan infeksi persisten, ini mewakili replikasi virus yang berkelanjutan dan aktif," kata Snell.

Setiap kali peneliti menguji pasien, mereka menganalisis kode genetik virus untuk memastikan itu adalah jenis yang sama dan orang tersebut tidak terkena Covid-19 lebih dari sekali. Namun, pengurutan genetik menunjukkan bahwa virus berubah dari waktu ke waktu, bermutasi yang disesuaikan.

Snell mengatakan, mutasi tersebut mirip dengan yang kemudian muncul dalam varian yang tersebar luas. Meskipun tidak ada pasien yang melahirkan mutan baru yang menjadi varian yang menjadi perhatian dan tidak ada bukti bahwa mereka menyebarkan virus ke orang lain.

Orang dengan infeksi terlama yang diketahui dinyatakan positif pada awal 2020, dirawat dengan obat antivirus remdesiver dan meninggal sekitar 2021. Para peneliti menolak menyebutkan penyebab kematian dan mengatakan orang tersebut memiliki beberapa penyakit lain.

Sedangkan lima pasien selamat, dua sembuh tanpa pengobatan, dua sembuh setelah pengobatan, dan satu masih mengidap Covid-19. Para peneliti berharap lebih banyak perawatan akan dikembangkan untuk membantu orang dengan infeksi persisten mengalahkan virus.

"Kita perlu berhati-hati bahwa ada beberapa orang yang lebih rentan terhadap masalah ini seperti infeksi terus-menerus dan penyakit parah," kata Snell. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA