Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

 

Muslim Minnesota Praktikkan Ramadhan Hijau

Jumat 24 May 2019 04:11 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Muhammad Hafil

Seperti halnya umat Islam di seluruh dunia, Ramadhan bagi masyarakat Muslim di Amerika juga berarti lebih banyak beramal.

Seperti halnya umat Islam di seluruh dunia, Ramadhan bagi masyarakat Muslim di Amerika juga berarti lebih banyak beramal.

Foto: ap
pusat Islam di Minnesota semakin beralih ke pendekatan minim limbah

REPUBLIKA.CO.ID, MINNEAPOLIS -- Mendekati tengah malam, sukarelawan di dapur Clubhouse Islamic Center of Minnesota (ICM) mencuci piring dan mangkuk logam untuk digunakan pada makan malam berikutnya. Meski membutuhkan usaha membersihkan yang lebih besar dibandingkan menggunakan plastik sekali pakai, penggunaan peralatan makan logam dinilai menimbulkan sedikit sampah selama Ramadhan.

Baca Juga

Direktur Club ICM, Sally Hassan, menuturkan, gaya hidup peduli lingkungan tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Mereka memutuskan untuk menyediakan peralatan makan dari stainless steel. "Orang-orang terbiasa nyaman dengan menggunakan piring plastik atau kertas. Mereka ingin jalan keluar yang mudah," ujarnya, dilansir di Bradenton Herald, Jumat (24/5).

Club ICM tidak sendiri. Masjid-masjid dan pusat-pusat Islam di Minnesota semakin beralih ke pendekatan minim limbah selama bulan Ramadhan. Penyelenggara buka puasa bersama di seluruh negara bagian melakukan berbagai cara untuk memastikan tidak ada kantong sampah yang meluap ataupun tumpukan botol pastik setelah acara selesai. Sisa makanan tidak habis juga dipastikan tidak ada.

Konsumen Amerika diketahui membuang lebih dari sepertiga makanannya, menurut Departemen Pertanian AS. Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan, sisa makanan yang berkontribusi atas 22 persen dari seluruh sampah telah dikirim ke tempat pembuangan sampah pada 2015. Jumlah tersebut melebihi bahan sampah lainnya.

Atas latar belakang tersebut, Muslim di Minnesota membentuk tim hijau untuk secara bertahap beralih ke kebiasaan makan ramah lingkungan. Hassan menuturkan, sebagai Muslim, mereka harus menjadi pelayan untuk Bumi ini. "Kamu tidak dapat menjadi Muslim yang taat tapi tidak merawat planet bumi. Keduanya tidak cocok," tuturnya.

Masyarakat Islam Amerika Utara yang berbasis di Indiana sudah menjangkau masjid dan pusat-pusat umat Muslim untuk bergabung dengan kampanye 'Menghijaukan Ramadhan'. Mereka mengajak masyarakt untuk mengadopsi praktik seperti menghindari produk sekali pakai dan tidak menyisakan makanan. Mereka juga memberikan khutbah tentang kewajiban Islam melestarikan dan melindungi lingkungan.

Di luar masjid, beberapa restoran juga telah mengimplementasikan Ramadhan Hijau. Ruhel Islam, pemilik Gandhi Mahal, sebuah restoran India/ Bangladesh di Minneapolis adalah salah satunya. Ia telah mengikuti pendekatan tanpa limbah sejak membuka restorannya pada 2008.

Makanan prasmanan buka puasa di Gandhi Mahal didominasi hidangan yang dapat dimanfaatkan kembal sebagai kompos. Penyajian tiap orang dibuat dalam porsi kecil untuk menghindari sampah sisa makanan. Minyak goreng yang digunakan pun dapat didaur ulang menjadi biodiesel.

Banyak ramuan yang digunakan di Gandhi Mahal ditanam di fasilitas aquaponic di ruang bawah tanah restoran. "Saya tumbuh di Bangladesh, di sebuah komunitas yang menanam makanannya sendiri dan percaya untuk mengurangi jejak karbon," kata Islam.

Bergantung pada anggaran dan tenaga kerja, pusat-pusat Islam sudah mengadopsi praktik ini. Muai dari penggunaan tanpa plastik, pembuatan kompos dari sisa makanan hingga memilah sampah daur ulang. Minneapolis Building of Islam, organisasi yang melayani sekitar 300 tamu tiap tahun saat malam penggalangan dana juga sudah melakukannya.

Koordinator Minneapolis Building of Islam, Jessica Wayman, mengatakan, pihaknya memilih untuk melayani tamu secara prasmanan. Tapi, porsi yang dihidangkan biasanya dalam jumlah sedikit dan memungkinkan mereka untuk menambah porsi apabila makanan sebelumnya sudah habis.

Wayman menjelaskan, organisasinya juga menyedikan bahan makanan yang 100 persen kompos dan tidak ada penggunaan botol air plastik. Jika makanan ada yang tersisa, pihaknya akan mengemasnya untuk para tamu. "Mereka dapat memakannya untuk sahur, atau berbuka puasa di keesokan hari," katanya.

Menurut Wayman, praktik konsumsi yang lebih hijau ini banyak didorong oleh kondisi global. Situasi di dunia semakin mnegerikan dengan isu kekurangan air, kerusakan hutan dan laut hingga ancaman terhadap satwa liar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Doa Bersama Aksi Tahlil Akbar 266

Rabu , 26 Jun 2019, 19:40 WIB