Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

 

Santap Nasi Minyak, Tradisi Berbuka di Jambi dari Yaman

Kamis 16 Mei 2019 23:41 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Hidangan saat Ramadhan (ilustrasi)

Hidangan saat Ramadhan (ilustrasi)

Foto: Thekitchn
Tradisi nasi minyak sudah berusia ratusan tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI— Masjid Raya Magat Sari Jambi menyediakan nasi minyak sebagai menu berbuka puasa untuk para musafir dan masyarakat di lingkungan masjid.

"Setiap Kamis malam Jumat, kita sediakan nasi minyak, kalau hari-hari biasa nasi putih biasa," kata Pengurus Masjid Raya Magat Sari Abu Bakar Ahmad di Jambi.

Baca Juga

Masjid Raya Magat Sari merupakan satu-satunya masjid di daerah itu yang menyediakan menu berbuka puasa dengan makan nasi minyak sehingga setiap Kamis, masyarakat yang berbuka puasa di masjid tersebut lebih ramai dari hari-hari biasanya.

Daging sapi dan daging ayam merupakan lauk yang disediakan setiap hari untuk berbuka dengan nasi minyak atau nasi putih biasa. Menu daging sapi dan daging ayam tersebut digilir dalam setiap harinya.

"Iya, seperti hari ini lauknya daging sapi, besok lauknya daging ayam, untuk perbaikan gizi lah mas," kata Abu Bakar Ahmad.

Saat memasuki waktu berbuka, masyarakat yang berbuka di masjid itu tidak serta merta langsung memakan nasi minyak. Saat menunggu waktu berbuka, diisi dengan mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh ulama setempat. Setelah penyampaian tausiyah, kembali dilanjutkan dengan membaca tahlil.

Saat memasuki waktu berbuka puasa, masyarakat dan musafir di masjid itu berbuka dengan makanan ringan seperti kue dan kurma. Setelah berbuka dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah, setelah shalat dilanjutkan dengan menyantap nasi minyak secara bersama-sama.

Tradisi berbuka dengan nasi minyak tersebut telah berlangsung sejak puluhan tahun dan merupakan tradisi turun temurun dari para pendiri masjid itu.

"Salah satu tradisi yang masih kami pertahankan ya berbuka dengan nasi minyak ini, selain itu tradisi lainnya yang masih dipertahankan yakni membaca wirid ratib haddad sebelum ibadah shalat tarawih dilaksanakan," kata Abu Bakar Ahmad.

Wirid Ratib al-Haddad adalah kumpulan dzikir harian yang disusun oleh Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau merupakan salah satu ulama besar di abad ke-12 Hijriyah. Beliau dilahirkan di salah satu kampung di Kota Tarim, Yaman pada malam ke-5 Safar 1044 Hijriyah.

 

  

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA