Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

 

Menyelami Tradisi Api Jagau di Bengkulu Jelang Lebaran

Kamis 14 Juni 2018 00:17 WIB

Red: Nur Aini

Ilustrasi Shalat Tarawih

Ilustrasi Shalat Tarawih

Foto: Republika/Darmawan
Tradisi Api Jagau digelar oleh masyarakat Suku Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Masyarakat suku Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, bersuka cita menyambut Lebaran dengan menggelar tradisi "api jagau" beberapa hari jelang Idul Fitri.

Nyuit, salah seorang tetua adat di Bengkulu Selatan baru-baru ini menuturkan tradisi "api jagau" merupakan wujud kegembiraan masyarakat Suku Serawai yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Tradisi itu digelar rutin setiap tanggal 27 dan 30 Ramadhan atau saat bulan mulai menghilang dari langit malam.

Dalam tradisi itu, masyarakat akan menyalakan lunjuk, yaitu obor yang terbuat dari tempurung kelapa yang disusun vertikal setinggi sekitar 1,5 meter. Satu rumah hanya boleh menyalakan satu lunjuk sebagai wujud perlambangan keesaan Tuhan.

"Api jagau dalam bahasa Serawai bermakna api yang menjaga. Cahaya api yang bersumber dari lunjuk itulah yang akan menjaga masyarakat dari gelapnya malam," tutur Nyuit.

Ketika tradisi itu berlangsung, masyarakat Suku Serawai akan berkumpul di masjid dengan membawa kuliner khas berupa lemang bambu dan tapai ketan hitam.

Kemudian mereka menunaikan shalat Isya, tarawih, dan witir bersama, lantas diteruskan dengan memakan jamuan lokal tersebut. Lunjuk yang ada dalam tradisi "api jagau" menjadi satu-satunya sumber penerangan masyarakat, sebelum adanya listrik.

"Cahayanya akan menerangi jalanan, sehingga masyarakat dapat berangkat dan pulang dari masjid dengan aman," ungkap pria berusia 86 tahun tersebut.

Selain sebagai sumber penerangan, tradisi itu juga menjadi sarana berkumpul masyarakat saat malam. Mereka menyediakan kursi-kursi di dekat lunjuk, lalu berbincang tentang beragam hal. Sementara anak-anak menjadikan tradisi ini sebagai hiburan.

Nuansa magis dengan nyala api, asap yang membumbung dari lunjuk hingga aroma tempurung kelapa yang terbakar menjadi daya tarik tersendiri saat menyelami tradisi tersebut. Pelaksana Tugas Bupati Bengkulu Selatan Gusnan Mulyadi mengatakan pemerintah akan melestarikan tradisi itu dikarenakan sarat nilai filosofis dan keunikannya.

"Tradisi ini merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang ada di Bengkulu Selatan dan patut dilestarikan," ucapnya.

Gusnan menambahkan, kebudayaan yang terjaga atas warisan nenek moyang menjadi modal penting dalam menjaga dan melestarikan kearifan budaya lokal di Nusantara. "Nuansa yang disuguhkan begitu khidmat yang mungkin tidak dapat ditemukan di daerah lain," ujarnya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES