Monday, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 December 2018

Monday, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 December 2018

 

Maleman, Tradisi Keraton Kasepuhan Sambut Lailatul Qadar

Selasa 05 Jun 2018 17:45 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Friska Yolanda

Ibu-ibu wargi Keraton Kasepuhan dipimpin Raden Ayu Isye Natadiningrat menyiapkan sajian untuk tradisi hajat maleman, Kamis (15/6). Tradisi itu rutin diadakan oleh Keraton Kasepuhan mulai 10 hari terakhir Ramadhan.

Ibu-ibu wargi Keraton Kasepuhan dipimpin Raden Ayu Isye Natadiningrat menyiapkan sajian untuk tradisi hajat maleman, Kamis (15/6). Tradisi itu rutin diadakan oleh Keraton Kasepuhan mulai 10 hari terakhir Ramadhan.

Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Tradisi ini ditandai dengan pembakaran ukup setiap malam ganjil.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Beragam cara dilakukan umat Islam untuk menyambut malam lailatul qadar pada 10 hari terakhir Ramadhan. Salah satunya, seperti yang dilakukan Keraton Kasepuhan Cirebon yang menggelar tradisi saji maleman, Selasa (5/6).

Tradisi saji maleman ditandai dengan penyalaan dlepak dan pembakaran ukup setiap malam tanggal ganjil usai Maghrib. Dlepak merupakan piring yang terbuat dari tembikar dan diisi dengan minyak maleman untuk menyalakan sumbu dari kapas yang sudah dipilin.

Minyak maleman itu terbuat dari minyak kelapa yang digodok kembali dengan tambahan kembang tujuh rupa. Karenanya, minyak tersebut akan menyebarkan aroma yang sangat harum saat sumbu dinyalakan.

Sedangkan ukup adalah wewangian yang dibuat dari campuran pohon cendana, akar wangi, kayu-kayuan wangi, rempah-rempah, yang dicacah dan disangrai dengan gula merah. Untuk membakarnya, ukup cukup ditebarkan di atas bara api yang dinyalakan di dalam dupa.

Semua perangkat yang digunakan dalam tradisi saji maleman itu disiapkan oleh Permaisuri Sultan Sepuh XIV, RAS Isye Natadiningrat, dan sejumlah ibu-ibu, di gedong pungkuran Dalem Arum Keraton Kasepuhan. Selanjutnya, semua perangkat itu dibawa dengan menggunakan gerbong dari Keraton Kasepuhan ke Astana Gunung Jati. Dlepak itu akan dinyalakan setiap malam ganjil di pintu cungkup makam Sunan Gunung Jati sampai dengan cungkup makam Sultan Sepuh XIII Keraton Kasepuhan, di Astana Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

"Saji maleman ini dalam rangka menyambut malam lailatul qadar," ujar Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.

Sultan Sepuh mengungkapkan, di malam lailatul qadar, ribuan malaikat turun ke bumi membawa keberkahan dan kemuliaan. Karena itu, untuk menyambut malam yang penuh kemuliaan itu, umat Islam harus siap.

"Harus bersih, harus wangi, harus melek, harus terang, dengan shalat, zikir dan doa. Semoga kita bertemu dengan lailatul qadar," ujar Sultan Sepuh. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES