Jumat, 6 Zulhijjah 1439 / 17 Agustus 2018

Jumat, 6 Zulhijjah 1439 / 17 Agustus 2018

 

Dengo-Dengo, Tradisi Bangunkan Sahur

Jumat 25 Mei 2018 01:52 WIB

Red: Agung Sasongko

  Sejumlah anak memukul alat perkusi dan alat bunyi-bunyian saat membangunkan sahur di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (30/6). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Sejumlah anak memukul alat perkusi dan alat bunyi-bunyian saat membangunkan sahur di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (30/6). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Dengo-dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada bulan Ramdahan ini, masyarakat Kota Bungku, Morowali, Sulawesi Tengah, menghidupkan kembali dengo-dengo. Tradisi ini merupakan kegiatan untuk membangunkan masyarakat Muslim untuk melaksanakan sahur dan shalat Subuh.

Dengo-dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter. Terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, bangunan ini menggunakan lantai papan dengan ukuran 3 x 3 meter persegi dan beratap daun sagu. Bangunan ini didirikan dengan cara gotong royong oleh warga menjelang 1 Ramadhan lalu.

Bambang (42 tahun), warga Bungku Tengah, menjelaskan, bangunan tersebut dilengkapi dengan sebuah gong, gendang, dan rebana serta ditunggui sekitar delapan orang. Hampir setiap rukun tetangga (RT) memiliki sebuah dengo-dengo.

"Pada saat menjelang waktu sahur, para penjaga dengo-dengo itu menabuh gong dan gendang serta rebana sehingga warga akan terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan sahur," ujarnya. Setiap malam, dengo-dengo sesekali dibanjiri warga setelah shalat Tarawih.

photo

Infografis Sahur

Bangunan dengo-dengo sudah ada di Bungku sejak awal masuknya Islam sekitar abad ke-17 untuk menyerukan kepada warga agar bangun saat sahur dini hari.

Pembuatan dengo-dengo yang dalam bahasa Indonesia berarti tempat beristirahat ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 500 ribu untuk setiap bangunannya. "Kami membangun ini dengan sukarela untuk mempertahankan tradisi di sini," kata Ahyar, salah seorang warga lainnya, yang mengatakan bahwa mereka mengambil sendiri bahan baku untuk membangun dengo-dengo.

Pada petang hari, menurut Ahyar, seperti dikutip dari Antara, dengo-dengo berfungsi sebagai tempat beristirahat menanti waktu berbuka puasa. Karena itulah, dengo-dengo selalu ramai dengan kunjungan warga.

Sementara itu, untuk membangunkan warga yang akan melaksakan ibadah puasa pada dini hari, sejumlah warga, umumnya para pemuda, mulai berkumpul di dengo-dengo sekitar pukul 01.30 waktu setempat.

Hampir setiap sudut jalan berdiri bangunan tinggi dengo-dengo yang akan dibongkar setelah Ramadhan nanti.

Salah satu tempat yang biasanya menjadi lokasi berdirinya dengo-dengo adalah masjid. Hampir di semua masjid di ibu kota Morowali berdiri bangunan yang dilengkapi dengan berbagai lampu hias yang dipasang mengelilingi dinding bangunan sehingga terlihat meriah dari kejauhan.

Berbeda dengan daerah lainnya, yang setelah shalat Subuh, sebagian langsung melakukan konvoi kendaraan bermotor di jalan-jalan dan memenuhi tempat hiburan, seperti pantai; masyarakat di Bungku memilih berkumpul di sekitar dengo-dengo untuk merencanakan kegiatan dan membagi giliran yang akan bertugas membangunkan warga untuk sahur berikutnya. Bangunan ini diklaim oleh warga Kota Bungku sebagai tradisi bulan Ramadhan satu-satunya di Sulawesi Tengah.

Sumber : Cahaya Ramadhan Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES