Friday, 6 Zulhijjah 1439 / 17 August 2018

Friday, 6 Zulhijjah 1439 / 17 August 2018

 

Tradisi Tadarus di Keraton Kasepuhan

Kamis 24 May 2018 18:00 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agung Sasongko

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon

Foto: Agung Supriyanto/Republika
Tadarus di dalam Langgar Alit itu dilakukan oleh kaum dan keluarga Keraton Kasepuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Shalat Isya dan shalat Tarawih baru saja selesai ditunaikan, Selasa (22/5)malam. Lantunan ayat-ayat suci Alquran pun langsung terdengar dari Langgar Alit Keraton Kasepuhan Cirebon. Kesyahduan bacaan firman Allah SWT itu terdengar khusyuk,menghidupkan malam bulan suci Ramadhan di keraton peninggalan Sunan Gunung Jati tersebut.

Tadarus di dalam Langgar Alit itu dilakukan oleh kaum dan keluarga Keraton Kasepuhan. Setiap dari mereka masing-masing membaca Alquran. Meski membaca Alquran masing-masing, namun mereka secara bersama-sama akan mengkhatamkannya selama 15 hari.

"Jadi selama bulan Ramadhan, dua kali khatam Alquran,"ujar Sultan SepuhXIV, PRA Arief Natadiningrat, kepada Republika, Rabu (23/5).

Tadarus selama bulan Ramadhan memang sudah menjadi tradisi yang tak bolehditinggalkan oleh para kaum dan keluarga Keraton Kasepuhan Cirebon. Membaca Alquran dan memperbanyak ibadah lainnya itu menjadi cara mereka untukmenghidupkan malam Ramadhan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Usai bertadarus, kaum dan keluarga keraton akan disuguhi kolak waluh untuk dimakan bersama-sama. Kolak waluh merupakan salah satu kuliner khas saat Ramadhan di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Tak hanya di Langgar Alit, tadarus selama bulan Ramadhan juga dilakukan diMesjid Agung Sang Cipta Rasa, yang hanya berjarak sekitar 100 meter dariLanggar Alit Keraton Kasepuhan. Di masjid yang dibangun para Wali Sanga sejak ratusan tahun lalu itu, tadarus dilakukan oleh kaum masjid dan masyarakat umum.

Selain tadarus, tradisi lain yang dilakukan Keraton Kasepuhan di malam bulan Ramadhan adalah tradisi maleman. Tradisi itu dilakukan pada 20 Ramadhan hingga 29 Ramadhan. Tujuannya, untuk menyambut malam Lailatul Qodar.

Tradisi maleman ditandai dengan penyalaan dlepak danpembakaran ukup setiap malam tanggal ganjil bakda Maghrib. Dlepak merupakanpiring yang terbuat dari tembikar dan diisi dengan minyak maleman untuk menyalakansumbu dari kapas yang sudah dipilin.

Minyak maleman itu terbuat dari minyak kelapa yang digodok kembali dengan tambahan kembang tujuh rupa. Karenanya, minyak tersebut akan menyebarkan aroma yang sangat harum saat sumbu dinyalakan.

Sedangkan ukup adalah wewangian yang dibuat dari campuran pohon cendana, akar wangi, gulamerah, sejumlah rumput kering, dan rempah-rempah. Untuk membakarnya, ukup cukupditebarkan di atas bara api yang biasanya dinyalakan dalam tungku.

Pembuatan hajat maleman itu dilakukan oleh ibu-ibu keraton, dengan dipimpin oleh Permaisuri RAS Isye Natadiningrat. Selanjutnya, semua perangkat tersebut dibawa denganmenggunakan gerbong dari Keraton Kasepuhan ke Astana Gunung Jati Cirebon.

"Dikirim ke Astana Gunung Jati untuk dinyalakan setiap malam ganjil di makam Sunan GunungJati (paling atas) sampai ke bawah makam sultan-sultan, terang Sultan Sepuh.

Menurut Sultan, melalui tradisi itu umat Islam diingatkan untuk lebih banyak terjaga(tidak tidur) pada malam hari untuk menyambut malaikat turun ke bumi membawarahmat. Umat Islam pun harus memperbanyak ibadah dan diharapkan memiliki hatiyang bersih dan terang. Dengan cara itu, maka bisa menebarkan keharuman ataumanfaat bagi banyak orang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES