Tuesday, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 February 2019

Tuesday, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 February 2019

 

Balimau, Tradisi Membersihkan Diri

Senin 30 Apr 2018 15:07 WIB

Rep: Dewi Mardiani/ Red: Agung Sasongko

  Warga Padang melakukan mandi balimau di sungai Batang Kuranji.  (Republika/Umi Nur Fadhilah)

Warga Padang melakukan mandi balimau di sungai Batang Kuranji. (Republika/Umi Nur Fadhilah)

Pembersihan fisik dimaknai dengan melakukan wudhu atau mandi dengan menggunakan air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang bulan suci Ramadhan, setiap orang berupaya untuk melakukan pembersihan diri, baik secara fisik maupun batin. Dari sisi batin, tentunya mereka membersihkan diri dari dosa, berniat menjalankan ibadah dengan baik, saling memaafkan, memperbanyak ibadah, dan berdoa lebih khusyuk.

Pembersihan fisik dimaknai dengan melakukan wudhu atau mandi dengan menggunakan air bersih. Di masyarakat, terdapat tradisi membersihkan diri, seperti mandi khusus sebelum Ramadhan. Kegiatan tersebut dilakukan secara turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi pembersihan diri di suku adat Minang, Sumatra Barat, yaitu Balimau.

Mandi Balimau merupakan tradisi budaya Minang. Tradisi ini berlangsung sejak masa sebelum Islam masuk di tanah Minang. Lalu, saat Islam masuk, upacara itu diakomodasi dan dimanfaatkan untuk membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa,” kata budayawan Minang, Edy Utama, di Padang, belum lama ini.

Esensi utama Balimau adalah membersihkan diri disertai niat untuk menjalankan ibadah puasa. Caranya adalah mandi di sungai-sungai besar. Syarat sungai yang digunakan, selain ukurannya besar, airnya bersih dan juga mengalir. Air laut jarang digunakan. Pada umumnya, yang sering digunakan adalah sungai. Di Sumatra Barat kan banyak sungai. Nah, masyarakat biasanya pergi ke sungai-sungai itu.”

Biasanya, dalam acara ini, dilakukan semacam upacara adat yang dipimpin oleh para sesepuh adat atau disebut Ninik-Mamak. Sebagai contoh, beberapa hari lalu, di daerah Lima Puluh Koto, Sumatra Barat, berlangsung mandi Balimau yang cukup besar. Peserta Balimau di Payakumbuh bahkan mencapai puluhan ribu orang.

Balimau merupakan mandi air sungai menjelang Ramadhan. Mandinya ditambahi dengan campuran air rendaman daun pandan dan bunga-bungaan wangi. Airnya kemudian diusapkan ke kepala atau untuk membasuh badan. Mandi Balimau sebenarnya bisa saja dilakukan di rumah, kata Edy, tetapi menurut tradisi yang tak boleh ditinggalkan dalam Balimau adalah ramuan air wanginya.

Salah seorang profesional yang bekerja di Jakarta mengupayakan pulang kampung ke Kota Padang beberapa waktu lalu untuk ikut Balimau. Namun, saya tak ikut untuk mandi ke sungainya. Saya hanya bawa rendaman air wanginya saja pulang ke Jakarta. Lalu, sehari sebelum Ramadhan dimulai, air itu saya pakai untuk mandi Balimau di rumah,” kata Imelda Sari. Dia mengaku, mandi Balimau sudah menjadi kebiasaan setiap tahun baginya dan keluarga besar di Padang.

Kekhasan mandi Balimau adalah air rendaman wangi. Di dalam air itu, direndam bunga-bungaan wangi (termasuk mawar), daun landep, irisan daun pandan, dan perasan air dari sejenis jeruk purut besar. Wanginya khas sekali. Biasanya sudah ada racikannya,” ujar Imelda.

Untuk mandinya, dilakukan dengan cara berendam di air sungai, lalu rendaman air wangi itu dipakai membasuh, seperti halnya sabun mandi. Setelah itu, badan dibasuh lagi dengan air sungai. Setelah mandi, mereka pun berwudhu.

Edy mengatakan, kegiatan ritual keagamaan ini merupakan aktivitas budaya. Namun, muncul kontroversi dari para ulama. Sebagian ulama melarangnya karena dianggap berdampak negatif. Dalam pernyataan ulama Sumarta Barat, dampak negatif Balimau adalah penyalahgunaan kegiatan ini sebagai acara melepaskan emosi, hasrat, dan sering lepas kontrol dalam kegiatan mandi bersama. Mereka mementingkan kegiatan ini pada bagian berkumpulnya, bergembira, dan mandi-mandi. Di acara besar yang ada Ninik-Mamak-nya pun sulit mengawasi Balimau karena saking banyaknya peserta.”

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES