Minggu, 12 Jumadil Akhir 1440 / 17 Februari 2019

Minggu, 12 Jumadil Akhir 1440 / 17 Februari 2019

 

Ragam Tradisi Ramadhan Nusantara

Jumat 26 Mei 2017 14:50 WIB

Red: Agung Sasongko

Prosesi Dugderan Semarang

Prosesi Dugderan Semarang

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Warga tua, muda, hingga anak-anak tumpah di jalanan Kota Semarang. Mereka berkeliling kota mengikuti rombongan pawai dengan mengarak maskot warak ngendhog. Diiringi tarian khas Semarang, atraksi barongsai, barisan bendi, rombongan prajurit berkuda, serta atraksi lain, arakan warak tersebut menghantar pemimpin setempat, yaitu gubernur Jateng dan wali kota Semarang menuju beduk di Masjid Agung Jawa Tengah.

Para pemimpin kemudian memukul beduk menjelang Maghrib. Pukulan beduk tersebut digunakan sebagai pertanda masuknya bulan suci Ramadhan. Setelah beduk dipukul, petasan pun disulut. Warga sukacita menyambut Ramadhan tiba. Inilah tradisi dugderan yang setiap tahun diperingati warga Semarang, Jawa Tengah.

Tradisi dugderan berawal dari masa Bupati Semarang Tumenggung Parboningrat pada abad ke-19. Sang bupati mengumpulkan warganya untuk mengumumkan hari pertama Ramadhan. Hal ini dia lakukan untuk mempersatukan warga yang memiliki banyak perbedaan waktu dalam menetapkan Ramadhan. Sebelum bupati menyampaikan pidato, beduk akan ditabuh. Kemudian, saat menjelang Maghrib, meriam akan disulut. Sejak itulah, tradisi tersebut terus diwariskan hingga kini.

Nama dugderan pun berasal dari dug, yakni suara pukulan beduk, dan der yang merupakan suara ledakan meriam atau petasan. Nama tersebut sebagai penanda puasa, yakni diawali beduk dan diakhiri petasan.

Beda di Semarang, beda pula di daerah lain. Di Aceh, masyarakat biasa mengumpulkan uang untuk membeli kerbau atau sapi atau kambing, kemudian menyembelih dan memakannya bersama. Tradisi ini disebut dengan meugang. Masyarakat di Serambi Makkah tersebut biasa memakan daging sembelihan menjelang hari penting, baik Ramadhan maupun hari raya. Meski tak diwajibkan, tak afdal rasanya jika tak melakukan meugang. Bahkan, bagi yang tak mampu, warga lain akan saling membantu agar semua orang dapat menikmati daging.

Kabarnya, tradisi meugang telah dilestarikan sejak muncul kali pertama pada 1400 Masehi. Saat itu, raja-raja Aceh memulai tradisi memotong hewan tersebut untuk dinikmati bersama rakyat. Tradisi ini menjadi kegiatan yang ditunggu warga mengingat menjadi momen berkumpulnya kerabat dan sanak saudara.

Adapun, di Padang, masyarakat menyambut Ramadhan dengan beramai-ramai turun ke sungai, danau, atau pantai, kemudian mandi bersama. Mereka bermaksud membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci. Tradisi ini disebut dengan balimau, maksudnya mandi, lalu keramas dengan menggunakan jeruk nipis (limau).

Namun, tradisi balimau ini mengundang banyak kontroversi. Sebagian masyarakat Minangkabau menganggap tradisi tersebut telah berbeda dengan praktiknya pada masa lampau. Dulu, mandi balimau hanya berlaku bagi pria dan sarat dengan ritual doa dan penyucian jiwa. Namun, saat ini, wanita dan pria bukan mahram bercampur, mandi bersama. Inilah yang menjadi kontroversi warga Minang.

Tradisi mandi bersama juga dilakukan di Lampung dengan nama ngelop. Warga beramai-ramai ke laut pada sore hari menjelang masuknya Ramadhan. Sebagian warga Lampung lain juga melakukan tradisi belangiran. Tradisi yang juga bermaksud menyucikan diri tersebut menggunakan kembang tujuh rupa dan air yang dianggap suci dari Gunung Betung. Mereka pun kemudian membawa kembang tersebut ke sungai dan mandi bersama.

Kembali ke Jawa, selain dugderan di Semarang, masyarakat di daerah lain pun melakukan beragam tradisi yang dianut asyarakat. Di Cirebon, misalnya, ada tradisi drugdag yang rutin dilakukan Kraton Kasepuhan untuk menyambut Ramadhan. Keturunan keraton akan memukul beduk di masjid Keraton Cirebon sebagai pemberi kabar bagi masyarakat bahwa Ramadhan telah tiba. Tradisi tersebut telah dilakukan sejak era Wali Songo pertama kali mendakwhkan Islam di Cirebon.

Di Kudus, terdapat pula tradisi dandangan. Masyarakat melakukan kirab budaya keliling kota dan berakhir di Menara Kudus dalam rangka menyambut datangnya bulan suci. Konon, tradisi ini biasa dilakukan Sunan Kudus acap kali Ramadhan tiba. Tradisi pun diturunkan hingga kini oleh masyarakat Kota Kretek tersebut.

Padusan

Bagi warga Jawa lain, seperti di Yogyakarta, Solo, dan kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dikenal tradisi padusan. Seperti halnya balimau di Sumatra Barat, warga mandi bersama di pantai ataupun sungai dengan tujuan menyucikan diri. Padusan  berasal dari bahasa Jawa adus yang berarti mandi. Di Yogya, Pantai Baron menjadi lokasi padusan yang dilakukan sehari sebelum Ramadhan tiba. Warga Gunung Kidul pun tumpah ruah di pantai selatan Jawa tersebut. Seperti warga Minang, sebagian masyarakat Jawa pun menganggap tradisi tersebut telah jauh dari syariat Islam dengan adanya campur baur wanita dan pria mandi bersama.

Selain tradisi-tradisi yang disebutkan di atas, masih banyak tradisi lain yang dilakukan masyarakat Indonesia. Hampir setiap daerah memiliki tradisi berbeda yang rutin dilakukan pada bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat. Islam datang ke nusantara dengan cara asimilasi kebudayaan. Warga pun kemudian menciptakan tradisi yang beragam tersebut dan terus dilestarikan hingga memperkaya budaya Indonesia dan menjadi daya tarik wisatawan. Kendati banyak kontroversi yang bermunculan saat ini, tradisi-tradisi tersebut pada umumnya lahir bukan sebagai perayaan, melainkan sukacita dan mempersiapkan diri dalam menyambut bulan penuh rahmat dan ampunan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB