Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

 

Ratusan Warga 'Keramas Bareng' di Bantaran Cisadane

Jumat 26 May 2017 03:11 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Sungai Cisadane

Sungai Cisadane

Foto: tkcmindonesia.com

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Warga Kelurahan Babakan Sukasari Kota Tangerang, Banten, memiliki satu tradisi khusus yang kerap dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan. Kebiasaan itu dinamakan 'keramas bareng'.

Tradisi turun-temurun itu diikuti warga asli Kampung Babakan Sukasari yang tinggal tak jauh dari sungai Cisadane. Tahun ini, ratusan warga Kelurahan Babakan Sukasari Kota Tangerang, Banten menggelar "keramas bareng" di Bantaran Sungai Cisadane pada Kamis untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Dengan membawa gayung, peserta ritual mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berbondong-bondong berjalan kaki menuju Sungai Cisadane untuk membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah puasa.

Ratusan warga yang memadati pinggir Sungai Cisadane dari Jalan Perintis Kemerdekaan ke arah kawasan wisata Pasar Lama itu masing-masing telah memegang sampo bungkusan dengan gayung di tangannya.

Secara bergantian, peserta ritual melakukan keramas di pinggir sungai. Bahkan ada juga yang saling bergantian membersihkan diri.

Ritual "keramas bareng" ini sudah dilakukan warga secara turun-temurun. Warga meyakini dengan melakukan ritual "keramas bareng" tersebut mereka bisa mendapatkan keberkahan.

Tak hanya "keramas bareng", tak sedikit warga berenang di Sungai Cisadane. Acara tahunan ini juga sebagai bentuk kegembiraan dalam menyambut Ramadhan.

Lokasi keramas bersama diadakan persis di pinggir Sungai Cisadane yang bisa ditempuh dengan tangga turun dan tempat berdiri berbahan semen selebar tiga sampai empat meter yang berbatasan langsung dengan sungai.

H Abu, Lurah Kelurahan Babakan menjelaskan, kebiasaan keramas ini awalnya dilakukan oleh warga setempat dengan menggunakan merang, yakni benih padi dari hasil panen yang dibakar lalu abunya dibiarkan semalam untuk kemudian dijadikan bahan alami perawatan rambut. Namun, karena merang kini sulit, maka diganti dengan sampo.

Setiap keramas bersama digelar, ada pesan moral yang ingin disampaikan kepada warga. Pesan itu lebih sebagai pengingat agar warga dapat mempersiapkan diri, termasuk membersihkan diri, menjelang bulan Ramadhan yang akan tiba sebentar lagi.

Warisan
Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah yang hadir dalam kegiatan tersebut menambahkan, ritual "keramas bareng" menjelang Ramadhan tersebut merupakan warisan kearifan lokal yang patut untuk dilestarikan.

Kebersamaan ini bisa meningkatkan semangat ukhuwah dan meningkatkan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah puasa. "Saya juga menyampaikan banyak terima kasih kepada para tokoh masyarakat yang telah menjaga dan melestarikan dengan mengenalkan budaya ini secara terus-menerus kepada anak-anaknya," katanya.

Menanggapi usulan warga yang ingin menjadikan ritual keramas tersebut sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Kota Tangerang, wali kota menyambut baik ide tersebut karena salah satu cara untuk melestarikan budaya lokal adalah dengan mengenalkan kearifan budaya lokal ke masyarakat.

"Kita sekarang lagi benahi infrastrukturnya dan kita juga dorong masyarakat untuk menggali potensi yang ada. Selain tentunya kita juga sedang mengembangkan konsep water front city yang menjadikan sungai sebagai titik penting pembangunan," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES