Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

 

Mengapa Makan Terlalu Cepat dan Berlebihan tidak Dianjurkan?

Senin 27 Mei 2019 21:15 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Umat Islam menanti waktu berbuka puasa dengan takjil yang dibagikan warga Madinah di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Selasa (7/5/2019).

Umat Islam menanti waktu berbuka puasa dengan takjil yang dibagikan warga Madinah di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Selasa (7/5/2019).

Foto: Antara/Aji Styawan
Makan berlebihan ketika sahur dan berbuka puasa dapat berdampak pada kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berpuasa memiliki banyak manfaat baik untuk tubuh. Ibadah menahan lapar sejak sebelum fajar sampai matahari terbenam itu memperbaiki metabolisme serta memicu proses detoksifikasi alami guna mengeluarkan racun.

Sayangnya, efek positif itu tidak maksimal apabila orang yang berpuasa makan berlebihan saat sahur dan berbuka. Kebiasaan yang disebut overeating bukan hanya makan dalam porsi berlebih, tetapi juga dengan kecepatan kelewat batas.

Ahli kesehatan dan nutrisi, dr Maria Charlotte BMedSci, menjelaskan alasannya. Peningkatan metabolisme saat berpuasa membuat tubuh menyerap nutrisi apapun dengan lebih optimal, baik itu nutrisi makro maupun mikro.

"Absorbsi yang lebih cepat ditambah makan berlebihan menyebabkan banjir kalori. Jangan kaget kalau muncul jerawat dan berat badan cepat naik," kata Maria saat ditemui pada acara SaladStop! di pusat komersial Setiabudi One, Jakarta Selatan.

Makan banyak dengan kecepatan berlebihan juga dapat memicu penyakit lambung gastritis. Belum ada penelitian khusus, tetapi sejumlah kasus menunjukkan overeating menimbulkan gejala sakit perut serta perut kembung.

Dia memaklumi bahwa menahan lapar seharian membuat seseorang lupa diri sehingga menyantap apapun saat buka puasa. Begitu pula ketika sahur, ada orang yang ingin "menabung" banyak makanan supaya lapar tidak terasa di siang hari.

Akan tetapi, menurut Maria, di situlah seninya berpuasa. Puasa membiasakan seseorang mengasah pengendalian diri untuk mengontrol pikiran, hati, dan jasmani. Setiap orang harus menyiapkan tekad supaya tidak makan berlebihan.

Maria menjelaskan pula kecukupan porsi agar jumlahnya tidak melampaui batas. Ukuran umumnya adalah sepiring makanan dengan 400-500 kalori, meskipun porsi makan setiap orang bisa berbeda-beda sesuai berat badan.

Cara termudah ialah mengikuti sunnah Rasulullah, yakni berhenti makan sesudah kenyang. Idealnya, satu piring makanan terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, serta nutrisi mikro seperti vitamin, mineral, zat besi, dan magnesium.

Dokter yang sehari-hari praktik di klinik kecantikan ID Beauty Clinic itu menyarankan selective eating. Artinya, makan apa yang dibutuhkan, bukan diinginkan. Contohnya, menyantap makanan tinggi serat saat sahur karena lebih mengenyangkan.

Maria meyakini kewajiban berpuasa sudah diatur Allah SWT demi kebaikan manusia. Sebab, ada penelitian yang mengungkap bahwa detoksifikasi 28 hari dalam setahun sudah cukup untuk mengeliminasi racun dalam tubuh dan menyehatkan tubuh.

"Tanggung jawab kita, menjaga pola makan dan asupan gizi untuk menjaga kesehatan diri. Kita yang punya setir, mau membawa tubuh menjadi sehat atau sesat," ujar lulusan Universitas Indonesia tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Bencana Angin Ribut di Pangalengan

Senin , 21 Okt 2019, 20:00 WIB