Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

 

Indahnya Pesantren Kilat dan Buka Bersama di Denmark

Rabu 29 May 2019 11:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana pesantren kilat di Denmark.

Suasana pesantren kilat di Denmark.

Foto: Dini Kusmana Massabau
Pesantren kilat dan buka bersama Muslim Indonesia di Denmark.

Oleh: Dini Kusmana Massabau, Perantau Indonesia Tingga Prancis.

Memang puasa Ramadhan tahun ini cukup panjang di Denmark, yaitu hingga 18 jam. Tak heran, acara berbuka puasa bersama merupakan hal yang dinanti oleh WNI yang tinggal di Kopenhagen dan sekitarnya.

“Walaupun jauh dari tanah air dan waktu berpuasa relatif cukup lama, masyarakat Indonesia di Kopenhagen tetap antusias untuk datang berbuka puasa dan tarawih bersama di KBRI. Selain menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, acara bersama ini juga mempererat silaturahim antarwarga Indonesia yang tinggal di Denmark, terutama Kopenhagen dan sekitarnya,” ungkap Duta Besar RI untuk Denmark, M. Ibnu Said.

photo
Suasana buka bersama di Denmark

Memang puasa Ramadhan tahun ini cukup panjang di Denmark, yaitu hingga 18 jam. Tak heran, acara berbuka puasa bersama merupakan hal yang dinanti oleh WNI yang tinggal di Kopenhagen dan sekitarnya. Oleh karena itu, setiap akhir pekan KBRI Kopenhagen bekerja sama dengan Indonesian Moslem Society in Denmark (IMSD) menyelenggarakan buka puasa dan sholat tarawih bersama. Acara ini selalu diikuti dengan antusias oleh masyarakat walaupun adzan magrib baru berkumandang sekitar pukul 21.30 malam.

Rangkaian program yang dilakukan selama bulan Ramadhan ini tidak hanya berbuka bersama, namun juga pengajian, tausiyah, serta pesantren kilat untuk anak-anak mulai usia 3 tahun hingga 13 tahun. Kegiatan yang dikelompokkan sesuai dengan usia anak berupa story telling, games dan aktivitas outdoor yang dibuat sedemikian rupa untuk anak-anak sehingga menyenangkan dan tidak membosankan.

”Program pesantren kilat ini sangat bermanfaat bagi anak-anak sehingga mereka dapat mengenal Islam sejak dini, terutama karena mereka tinggal di negara di mana Islam bukanlah agama mayoritas seperti di Indonesia,” ujar Dubes Ibnu Said.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES