Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

 

Memerangi Rasa Ngantuk Berpuasa 19 Jam di Haugesund

Ahad 19 May 2019 05:00 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana panas di Haugesund, Norwegia

Suasana panas di Haugesund, Norwegia

Foto: Savitry Icha Khairunnisa
Berperang dengan rasa ngantuk ketika berpuasa 19 Jam di Haugesund cukup berat.

Oleh: Savitry Icha Khairunnisa, Perantau Indonesia di Norwegia.

Orang Norwegia sangat hobi membicarakan cuaca. Ketika mereka hampir kehabisan bahan obrolan, biasanya obrolan tentang cuaca akan jadi penyelamat dari suasana canggung.


Maklum saja, cuaca di Negeri Viking ini memang lebih banyak tak menentu. Cukup sering dalam sehari kami mengalami cuaca yang berganti begitu cepat.

Seperti awal bulan Mei, ketika seharusnya udara mulai menghangat, tiba-tiba turun salju yang cukup untuk menutupi daun-daun di pohon. Tak lama kemudian salju lumer, dan matahari kembali bersinar cerah, sebelum kemudian turun hujan es disertai angin. SubhanAllah. Bagaikan empat musim diborong dalam satu hari.

Beberapa hari sebelum perayaan Hari Konstitusi, masyarakat dan media heboh membahas kemungkinan cuaca panas di luar kebiasaan. Ternyata ramalan cuaca memang akurat. Kemarin suhu sangat panas untuk ukuran Haugesund dan kota-kota lain di Norwegia.

p berpuasa. Alhamdulillah kemarin puasa Fatih berjalan lancar, meski dia mengaku kepalanya sedikit "nggliyeng" alias pusing. Dengan istirahat sejenak alhamdulillah dia kembali ceria dan berangkat Jumatan, lalu ke sekolah untuk ikut meramaikan pesta tujuhbelasan di sana.

Pagi ini hujan kembali menyejukkan bumi Haugesund. Suhu kembali turun di kisaran 15 Celcius. Sejuk. Alhamdulillah.

Saya sering ditanyai bagaimana beratnya puasa 18-19 jam. Memang berat, tapi yang utama bukan karena rasa lapar atau haus. Teman-teman di negara subtropis yang juga mengalami puasa panjang mungkin akan setuju, bahwa salah satu tantangan terberat Ramadhan di musim panas adalah melawan rasa kantuk.

Menunggu maghrib yang jelang tengah malam, berbuka, salat maghrib, makan malam, salat isya', dan tarawih, adalah kegiatan kami memborong malam. Istirahat malam juga tak bisa lama. Hanya 2-3 jam kemudian harus bangun kembali untuk sahur. Masih ada sisa kenyang dari semalam, dan tentu sisa kantuk yang belum tuntas.

Jadwal tidur kami memang jadi cukup berantakan di awal. Apalagi untuk para pekerja dan anak sekolah. Harus bisa menyiasati waktu tidur supaya nggak ngantuk di tempat kerja / sekolah. Maka setelah subuh, biasanya kami akan kembali tidur 1-2 jam sebelum bersiap untuk kegiatan pagi. Begitu terus setiap hari, sehingga kami jadi terbiasa.

Iya. MasyaAllah memang mekanisme tubuh menyesuaikan dengan ritme puasa yang bisa dibilang ekstrem ini. Termasuk betapa Maha Baiknya Allah mengatur cuaca yang tidak pernah terlalu panas bagi kami untuk menjalani puasa panjang. Setidaknya rasa dahaga itu tidak begitu menggoda (kecuali kalau kita melintas di taman atau cafe di mana orang-orang dengan santai menikmati es krim atau minuman dingin. Nasib itu mah, ya).

Well. Jadi intinya demikian. Puasa kami berat tapi tidak seberat yang dibayangkan. 'Alaa kulli hal. Kalau bisa dibandingkan, mungkin lebih berat puasa di Indonesia yang siangnya sungguh panas dan terik. Belum lagi godaan bazaar Ramadhan dan pedagang takjil yang sering membuat kita kalap untuk memborong semua makanan enak itu. Glek!

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA