Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

 

Berpuasa Di Tengah Semarak Perayaan Kemerdekaan Norwegia

Ahad 19 May 2019 02:40 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana perayaan hari kemerdekaan Norwegia setiap 17 Mei.

Suasana perayaan hari kemerdekaan Norwegia setiap 17 Mei.

Foto: Savitri Icha Khairunnisa
Sangat terasa istimewa kala berpuasa di tengah perayaan kemerdekaan di Norwegia

Oleh: Savitry Icha Khairunnisa, Perantaun Indonesia di Norwegia

Hari ini sungguh spesial untuk masyarakat Norwegia. 17 Mei 1814 menjadi tonggak bersejarah dengan ditandatanganinya Konstitusi oleh para gubernur di seluruh Norwegia, yang intinya mendeklarasikan berdirinya Negara Norwegia, dan menobatkan Christian Frederik sebagai raja pertama Kerajaan Norwegia. 


Hal ini dianggap sebagai langkah berani yang sudah dinantikan oleh seluruh rakyat setelah sekian ratus mereka berada di bawah jajahan Denmark dan Swedia secara bergantian.


Iya, Norwegia dan Indonesia punya kesamaan. Sama-sama bekas negara jajahan. Dan kita juga sama-sama punya acara "Tujuh belasan" yang selalu diperingati dengan meriah. Highlight yang selalu ditunggu masyarakat Norwegia di manapun adalah "barnetoget" (Children's Parade).

Di pagi hari anak-anak sekolah (SD - SMA) akan berbaris dengan pakaian terbaik mereka, dengan dipimpin oleh kelompok marching band yang memainkan lagu kebangsaan dan lagu-lagu nasional lainnya. Masyarakat akan dengan sabar dan antusias berjejer di pinggir jalan untuk menyemangati para peserta pawai. Semua bergembira. Apalagi tahun ini kami diberkahi dengan cuaca yang alhamdulillah bagus sekali.

photo

        Fatih dan Amar anak dari Bosnia yang menawan sebelum ikut parade.

Biasanya cuaca 17 Mei selalu diwarnai mendung, angin, atau hujan. Tapi hari ini MasyaAllah, hangat dan cerah sejak pagi. 
Semua orang jadi tak perlu memakai jaket. Jas, "bunad" (busana tradisional Norwegia) yang berwarna-warni menghiasi seantero kota. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. 
Perayaan 17 Mei adalah pesta rakyat yang sama sekali tidak melibatkan unsur militer. Jadi suasananya selalu santai dan meriah meski tetap khidmat.

Kirab tahun ini diikuti oleh 21 sekolah, 8 korps, dan ribuan anak sekolah yang berkeliling kota dan kemudian memadati lapangan kantor walikota. Entah kenapa ketika lagu kebangsaan Norwegia (Ja, Vi elsker dette landet!) dinyanyikan, saya jadi terharu. Di sini saya jadi teringat lagu Indonesia Raya. Serasa lagi acara 17 Agustusan saja.

Alhamdulillah meski cuaca cukup panas (untuk ukuran Haugesund) dan harus berjalan sekitar 4-5 km, anak saya, Fatih, tetap berpuasa. Tak ada keluhan lapar atau haus, meski penjual makanan dan minuman berseliweran. Pun orang yang menikmati es krim, hotdog, dan cokelat juga lalu-lalang.

Keluhan Fatih dan beberapa teman sekelas yang laki-laki, mereka bosan dengan pawai ini. Karena menurut mereka, selama tujuh tahun acaranya ya, begitu-begitu saja. Padahal saya, dan juga banyak orang lain, selalu antusias mengikutinya. Selalu ada hal baru dan menarik.

photo

Parade di hari kemerdekaan Norwegia

Setelah kirab selesai, semua bubar. Pulang ke rumah masing-masing. Biasanya orang-orang akan berkumpul bersama keluarga untuk makan-makan dan ngobrol, tetap dengan busana tradisional mereka.

Ya, perayaan 17 Mei ini memang segitu istimewanya. Boleh dibilang hampir menyamai istimewanya perayaan Natal. 
Perayaan 17 Mei bukan sekadar peringatan kemerdekaan, tapi lebih pada ajang berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Unik, ya.

Sekarang Fatih dan ayahnya sedang sholat Jumat. Nanti sore sekitar jam 17:00 akan ada pesta lanjutan di sekolah, yang dihadiri keluarga besar para siswa. Akan ada perlombaan (lomba karung termasuk di antaranya), permainan musik oleh marching band, dan kios-kios makanan yang pasti laris-manis. Untung ketika acara itu nanti Fatih sudah buka puasa. Kalau nggak, kasian juga dia cuma gigit jari 

photo

Anak-anak sekolah di Norwegia bersiap ikut parade

Pesta sekolah ini adalah kesempatan buat anak-anak jajan sepuasnya. Maklum di semua sekolah di Norwegia nggak ada kantin. Mereka juga nggak boleh bawa uang ke sekolah. Maka kesempatan setahun sekali ini patut dimanfaatkan.

Tahun lalu saya ingat, perayaan 17 Mei jatuh di hari pertama Ramadhan. Tahun ini acara jatuh pada 12 Ramadhan. Maka betul bahwa kalender Islam itu selalu maju 12 hari dibandingkan kalender Gregorian. Cocok.

Hipp hipp hurra! Gratulerer med dagen, Norge!

https://www.facebook.com/savitry.khairunnisa/videos/10157084041469020/

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA