Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

 

Puasa di Swiss: 17 Jam tanpa Kumandang Azan dan Sahur

Rabu 15 May 2019 19:46 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Ramadhan

Ilustrasi Ramadhan

Foto: Pixabay
Puasa di Swiss berbeda 5 jam dari puasa di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA— Ramadhan 2019 di Swiss bertepatan dengan musim semi yakni peralihan musim dingin menjelang musim panas. Hal ini pun mempengaruhi waktu lamanya puasa umat Islam di Swiss.

Jika di negara tropis seperti Indonesia, rata-rata lama puasa sekitar 13-14 jam. Namun tidak halnya di Swiss, umat Islam harus menahan haus dan lapar sekitar 17 jam. 

Di Swiss, durasi siang hari memang lebih panjang daripada malam hari. Matahari terbit sekitar pukul 5 pagi dan baru terbenam pukul 21.00 waktu setempat (WS).  

Jeda antara buka puasa dengan sahur di negeri yang memiliki perbedaan waktu lima jam dengan Indonesia tersebut juga hanya beberapa jam saja. Waktu Shubuh untuk wilayah Jenewa, Swiss sekitar pukul 04.17 WS dan berbuka puasa sekitar pukul 21.02 WS.  

Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Muliaman Hadad, yang sudah mengalami dua kali bulan Ramadhan di Swiss, mengatakan lamanya puasa 2019 ini terhitung cepat dibandingkan puasa 2018 lalu. 

"Tahun lalu puasa pada musim panas, sehingga kita puasa disini sampai 20 jam, kalau sekarang 17 jam, sedikit lebih cepat," ujar Muliaman saat ditemui wartawan di Jenewa, Swiss, Rabu (15/5).

Namun, jangan harap suasana Ramadhan di Swiss seperti suasana bulan suci di Tanah Air. Di Swiss, tak terdengar kumandang azan Magrib penanda waktu berbuka. Begitu pun saat sahur, tidak ada pengeras suara di masjid yang membangunkan warga menjelang sahur tiba.

Umat Islam di Swiss saat berbuka maupun sahur hanya mengacu pada jadwal waktu shalat yang dibuat komunitas Muslim setempat. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi kekhusyukan umat Islam di Swiss untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadhan. 

Tak jarang juga, umat Islam yang mengunjungi masjid-masjid yang berada di beberapa titik Swiss untuk beribadah Ramadhan.

"Disini ada komunitas Muslim dari beberapa negara seperti Turki, mereka membuat jadwal waktu shalat, imsak, dan berbuka, kita (umat Islam Indonesia di Swiss), mengikuti jadwal dari komunitas Muslim setempat, disana juga ada masjid semacam mushala," ujar Muliaman. 

Muliaman mengatakan, kendati tak memiliki komunitas Muslim tersendiri di Swiss, jumlah Muslim Indonesia di Swiss juga cukup banyak dari sekitar tiga ribu orang di Swiss, dan tersebar di beberapa kota di negara tersebut.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES