Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

 

Apakah Langit Makkah dan Aqsa Sore Ini Berwarna Merah?

Selasa 14 May 2019 17:09 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Senja merah di Masjidil Aqsa Yerusalem.

Senja merah di Masjidil Aqsa Yerusalem.

Foto: Google.com
Ramadhan di Makkah dan berbagai tempat lainnya tetap mengharukan.

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

“Janganlah kamu berusaha menyenangkan semua orang. Soalnya, kamu bukan Adzan Maghrib di bulan Ramadhan.”

Saya tersenyum membaca quote ala milienial yang ditulis Akbar Fachreza.

Bulan Ramadhan selalu dikaitkan dengan adzan Maghrib yang ditunggu-tunggu. Maghrib identik dengan senja yang lindap.

Saya terkenang dengan semburat jingga di langit. Yang saya saksikan di lengkung-lengkung bumi Allah yang luas.

Seperti senja di Istana Topkapi, Istanbul, Turki.

… Keluar dari ruangan, terdapat taman yang luas. Di dekat pagar pembatas terlihat gazebo kecil. Di gazebo inilah Sultan menanti adzan Maghrib berkumandang di bulan Ramadhan.

Pemandangan dari tempat ini terlihat indah sekali. Bayangkan, minum seteguk zam-zam untuk menghapus dahaga setelah puasa seharian sambil menatap senja yang lindap di atas Selat Bosphorus.

Masyaallah…

photo

Senja di

Di antara banyak senja yang pernah saya saksikan itu. Yang paling menggores kenangan adalah senja di Al Quds, Palestine.

Saat langit mulai temaran. Dari tempat berdiri, saya bisa melihat kubah Al Sakrah yang berwarna emas. Indah sekali dalam keremangan senja.

Tiba-tiba tubuh saya terasa membeku. Kaki saya tidak bisa digerakkan begitu kumandang adzan terdengar. Subhanallah, kumandang adzan Maghrib Masjidil Aqsa terdengar indah sekali.

Hati saya tergetar ketika muadzin sampai pada kalimat, “Hayya 'alash sholah. Marilah shalat.” Alhamdulillah ya Rabb, Engkau turunkan perintah shalat. Dari tempat ini, Manusia Mulia itu menjemput perintahMu.

Selain itu, ada momen senja yang paling saya harapkan. Yakni, menyaksikannya di Masjid Al Azhar, Kairo.

Selama bertahun-tahun, setiap menjelang Maghrib di bulan Ramadhan, saya selalu melihat langit yang berubah kemerahan dari tangga teratas Masjid Agung Al Azhar, Jakarta.

Di waktu yang mustajab itu, saya selalu selipkan doa: “Izinkan saya menyaksikan senja seperti ini di Masjid Al Azhar, Kairo, ya Rabb.”

Allah ijabah doa itu. Meski waktunya tidak tepat di bulan Ramadhan.

Saya terpekur menatap minaret di tembok tua itu. Goresan senja telah sempurna. Suasana remang, menyisakan perasaan syahdu.

Shaymaa, local guide selama di Kairo, berlari kecil menuju bilik di pojok gerbang untuk meminjam kain dan selendang. "Wait," katanya.

Semua yang masuk ke dalam masjid harus mengenakan pakaian tertutup, termasuk menutup kepala dengan selendang. Ia tak memakainya. Tak lama, "Oke, let's go," ajaknya setelah beres dengan pakaian barunya.

Di selasar masjid terlihat deretan bangku-bangku panjang yang digunakan untuk duduk-duduk. Anak-anak muda seumuran mahasiswa menekuri buku yang dibawa.

Tidak ada yang bergerombol atau bercanda. Kalaupun ada yang sedang bercakap, terlihat seperti sedang berdiskusi.

Orang-orang yang lalu-lalang pun terlihat "setipe". Yang laki-laki kalau tidak mengenakan gamis dan jaket, mereka mengenakan jas dan kopiah.

Yang perempuan mengenakan busana muslim santun dengan kerudung sederhana. Semua terlihat seperti sekumpulan orang-orang pintar yang tawadhu.

Degup jantung saya kian terasa saat melangkah ke dalam ruang shalat. "Where's the woman section?" Tanya saya.

"You can pray everywhere. I'll wait you there," jawab Shaymaa sambil menunjuk bangku di belakang.

Saya putuskan untuk mengambil tempat di balik salah satu pilar dan segera shalat tahiyatul masjid 2 rekaat.

Dalam sujud, mata saya basah. "Yaa Rabb, saya selalu bermaksiat kepadaMu, namun Engkau selalu datang dengan limpahan cinta dan berikan apa pun yang saya pinta."

Saya merasa begitu kecil, dengan segunung dosa. Namun Allah selalu berikan semuanya: sujud di Masjid Al-Azhar, Kairo, ini salah satunya.

Setelah salam, saya tundukkan kepala dalam-dalam dan menderas ucap syukur.

Maghrib sebentar lagi datang. Terlihat Sang Imam duduk di kursi yang disediakan di bagian depan. Muadzin pun telah bersiap di tempatnya.

Jubah putih berlapis kain abu-abu dan kopiah khas berwarna putih dengan bagian dalam berwarna merah membuat siapa saja menunduk takzim saat bicara dengannya.

Terlihat seorang perempuan bercadar hitam bertanya sesuatu padanya. Mereka terlibat dalam diskusi singkat.

Saya mengedarkan pandangan dan tersenyum bahagia. Belum 10 menit berada di tempat ini, saya telah merasakan hal yang sangat luar biasa.

Ini adalah masjid di mana deretan rak buku yang ada di dalamnya tidak hanya berisi Alqur’an, namun juga beratus buku dan kitab lainnya.

Semua orang menunggu datangnya waktu shalat dengan berdzikir, mendaras Alqur’an, atau membaca buku. Tidak ada yang ngobrol, apalagi main handphone!

Laki-laki dan perempuan mendapat porsi yang sama. Perempuan bercadar tadi membuktikannya. Ia bisa langsung berdiskusi pada Sang Imam di dekat mihrab.

Di belakang saya terlihat sebuah halaqah kecil, empat orang perempuan dan seorang guru.

Sebuah artikel berbahasa Inggris yang pernah saya baca, menyebutkan. Islam akan tetap berjaya selama umatnya masih tetap melaksanakan haji dan umrah; shalat Jumat berjamaah; dan tradisi keilmuwan terjaga di Al-Azhar, Mesir.

Dalam keremangan senja, di antara cahaya ilmu ini, saya selipkan sebuah doa, “Rabbi zidni 'ilma warzuqni fahma.” Izinkan saya menjadi bagian dari mereka, Ya Rabb...

photo

Menjelang Maghrib di Makkah.

Bayangan senja yang juga sering muncul adalah langit lindap di atas Ka’bah. Bila Allah izinkan, cobalah sesekali menunggu waktu syuruq atau menanti senja di depan Ka’bah di area thawaf.

Perubahan dari langit gelap menjadi terang dan langit terang menjadi gelap dalam semburat kemerahan, sungguh tak bisa dilukiskan.

Perubahan warna langit itu juga tersebut dalam beberapa hadis. Seperti, dari Abdullah bin Amar ra bahwa Rasulullah SAW menyebutkan, "Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)." (HR Muslim).

Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat.

Sedangkan menurut Abu Hanifah, syafaq adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang.

Ah, sambil menunggu Maghrib hari ini, saya membayangkan: Apakah langit Makkah, sore ini juga berwarna merah?

follow me on IG @uttiek.herlambang

Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES