Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

 

Berpisah dengan Bulan Suci Ramadhan

Kamis 07 Jun 2018 15:24 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: IST
Konon Rasulullah SAW dan generasi salaf juga kerap sedih meninggalkan Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tidak terasa sudah sebulan menjalani ibadah pada bulan Ramadhan. Saatnya berpisah dengan bulan yang penuh berka serta bulan ketika banyak yang dibebaskan dari siksa neraka.

Konon Rasulullah SAW dan generasi salaf juga kerap sedih meninggalkan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Sungguh sangat merugi jika seseorang meninggalkan amalan-amalan kebaikan dan ampunan Allah yang begitu luas.

Cendekiawan Muslim Didin Hafiuddin mengatakan, Rasulullah SAW dan generasi salaf bersedih sekali jika Ramadlan hendak berahir karena akan berpisah dengan bulan yang mulia, bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, serta bulan yang menghadirkan rahmat dan ampunan Allah SWT dan pembebasan dari azab neraka.

Kesedihan tersebut mengindikasikan kecintaan yang tulus kepada Allah SWT dan kecintaan kepada sesama kaum muslimin yang sedang berpuasa.

"Kesedihan spiritual yang mendalam karena khawatir tidak bertemu dengan dengan bulan Ramadhan," ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jakarta, Kamis (7/6).

Menurut dia, kesedihan yang lahir dari seseorang yang memiliki keimanan kuat selalu ingin mendapat rahmat dan ampunan dari Allah SWT. "Kesedihan karena akan meninggalkan bulan yang penuh kemudahan dan kekuatan, itulah yang mereka rasakan,"ucapnya.

photo

Infografis Ciri-Ciri Malam Lailatul Qadar

Ia menyebut, kesedihan tersebut mengindikasikan kecintaan yang tulus kepada Allah SWT dan kecintaan kepada sesama kaum Muslimin yang sedang berpuasa. Walaupun sedih, orang yang sedang berpuasa itu memiliki kekuatan batin yang dahsyat untuk melalukan perubahan dan perbaikan ke arah yang makin berkualitas. Sebab, orang tersebut terlatih dengan puasa dan ibadah lainnya.

Untuk itu, kecenderungan orang yang memiliki keimanan kuat pasca-Ramadhan tetap terjaga semangat dan keinginannya untuk menghadirkan perubahan.

"Syukur itu artinya berterima kasih kepada Allah SWT sebagai pemberi nikmat. Termasuk nikmat bertemu kembali dengan Ramadlan dengan cara melakukan secara istiqamah amalan yang mengundang ridha-Nya,"ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB