Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

 

Orang Celaka Jika tak Diampuni Dosanya Saat Ramadhan

Jumat 25 May 2018 18:48 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Andi Nur Aminah

KH Tengku Zulkarnain

KH Tengku Zulkarnain

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Mereka termasuk orang yang sial karena Ramadhan hanya datang setahun sekali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Ramadhan disebut sebagai bulan penuh ampunan. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Tengku Zulkarnain menerangkan, Allah memberikan banyak ampunan kepada kaum Muslim di bulan Ramadhan. Orang yang tidak diampuni dosanya saat Ramadhan termasuk orang yang rugi dan celaka.

Ustaz Zulkarnain mengatakan, orang-orang yang berpuasa dengan ikhlas karena Allah di bulan Ramadhan akan diampuni dosanya. Orang yang diampuni dosanya setelah melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan dikatakan seperti bayi yang baru lahir. "Siapa yang malam harinya (di bulan Ramadhan, Red) shalat malam, Tarawih di bulan Ramadhan, seluruh dosa-dosanya diampuni," kata Ustaz Zulkarnain kepada Republika.co.id, Jumat (25/5).

Ia menegaskan, orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh akan diampuni dosanya. Rasulullah juga mengatakan orang yang tidak diampuni dosanya di bulan Ramadhan termasuk orang yang celaka.

"Orang yang tetap melakukan perbuatan dosa, tidak Shalat Tarawih dan tidak melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan diampuni dosanya. Mereka termasuk orang yang sial karena Ramadhan hanya datang setahun sekali," ujarnya.

Ia juga mengingatkan, orang yang diampuni dosanya setelah melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan, harus menjaga diri agar tidak lagi jatuh ke lembah maksiat. "Karena selama Ramadhan kita menahan diri dari makan yang halal, makanan yang halal tidak kita sentuh di bulan Ramadhan di siang hari, buka puasa tidak banyak-banyak," ujarnya.

Ustaz Zulkarnain menegaskan, dengan demikian maka akan tumbuh sikap takwa di dalam diri hasil latihan selama bulan Ramadhan. Sehingga orang tersebut akan jijik dengan yang haram dan tidak rakus dengan yang halal.

Dia megatakan, kalau ada orang yang sudah bertahun-tahun melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, coba tanyakan dua hal. Pertama, apakah sudah jijik dengan yang haram? Kedua, apakah masih rakus dengan yang halal? "Kalau belum jijik dengan yang haram dan masih rakus dengan yang halal maka bisa dikatakan orang tersebut belum bertakwa," jelasnya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES