Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

 

Manisnya Serabi Khas Solo Banyak Dicari Selama Ramadhan

Selasa 21 May 2019 17:28 WIB

Red: Christiyaningsih

Pedagang membuat serabi khas Solo.

Pedagang membuat serabi khas Solo.

Foto: Republika/Binti Sholikah
Serabi menjadi salah satu jajanan pasar yang banyak dicari saat Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Kota Solo memiliki beragam kuliner khas yang memanjakan lidah. Jajanan pasar khas Solo seperti aneka jenang, apem, timus, lenjongan, serabi, pukis, dan lainnya. Serabi menjadi salah satu jajanan pasar yang banyak dicari saat Ramadhan, terutama untuk dijadikan takjil berbuka puasa.

Jajanan ini banyak dijual di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo. Namun, serabi paling melegenda yakni Serabi Notosuman yang sudah ada sejak 1920-an. Notosuman dulu merupakan nama jalan di mana kios pertama penjual serabi dibuka.

Kini, nama jalan tersebut telah berubah menjadi Jalan Moh Yamin. Di sekitar Jalan Moh Yamin terdapat beberapa pusat oleh-oleh yang menjual Serabi Notosuman.

Serabi khas Solo dikemas dengan cara digulung dan dibungkus daun pisang. Cara menghidangkannya langsung bisa dimakan tanpa kuah seperti di daerah lain. Sebelum dibungkus daun pisang, terlihat bentuk serabi yang tipis, lembut, dan kenyal. Rasanya manis dan gurih santan kelapa.

Kebanyakan penjual serabi di Solo mempersilakan para pembeli untuk melihat langsung proses pembuatan serabi. Ruangan untuk memasak serabi umumnya berada di depan atau di samping toko. Di situ akan terlihat deretan wajan kecil dari tanah liat untuk memasak serabi.

Salah satu pemilik toko serabi bernama Indriyati mengatakan selama Ramadhan penjualan serabi meningkat dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Menurutnya ini karena selama Ramadhan banyak pesanan untuk takjil dan buka bersama.

Jika pada awal bulan puasa peningkatan omzet mencapai dua kali lipat, menjelang Idul Fitri peningkatan omzet bisa tiga kali sampai empat kali lipat. Ini karena banyak pembeli yang berasal dari luar kota.

"Dijadikan takjil mungkin karena rasanya manis. Dasarnya sudah manis, tinggal toppingnya saja. Rasanya hampir sama kayak kolak. Lidahnya orang Solo kan suka yang manis," imbuh Indriyati.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES