Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

 

Buka Puasa Sehat dengan Pecel Pincuk Khas Madiun

Jumat 17 May 2019 15:26 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Christiyaningsih

Pecel Madiun yang disajikan dengan pincuk.

Pecel Madiun yang disajikan dengan pincuk.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Di Malang, pecel pincuk khas Madiun dapat dinikmati di kedai Petjel Van Madioen

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Masyarakat Indonesia terutama di Jawa Timur tentu tak asing lagi dengan kuliner tradisional bernama pecel. Kuliner khas Madiun ini tidak hanya bisa ditemukan di kota asalnya, tapi juga beberapa daerah lainnya seperti di Kota Malang.

Baca Juga

Tepat di Jalan Tombro, terdapat satu kedai sederhana bernama Petjel Van Madioen. Pemilik Kedai, Andhika Yudha Pratama, menerangkan jadwal menikmati pecel Madiun di kota asalnya tidak berpatokan pada waktu. Warga bisa menikmati sajian salad sayur khas Indonesia ini di waktu pagi, siang, bahkan malam hari.

"Kalau di Malang cuma untuk sarapan pagi," ujar Andhika saat ditemui Republika belum lama ini. Andhika menerangkan warung-warung pecel di Madiun lebih banyak memanfaatkan waktu di malam hari. Hal ini tak lepas dari penyesuaian jadwal tutup toko-toko di pinggiran jalan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Andhika mencoba membuka usaha kuliner pecel Madiun dari sore sampai malam hari di Kota Malang. Dia sengaja tidak memanfaatkan waktu pagi agar sedikit berbeda dengan warung pecel lain di kota itu. Menurutnya warga Kota Malang perlu tahu bagaimana mencicipi pecel di malam hari.

Pecel Madiun yang disajikan Andhika terdiri dari daun kenikir, daun singkong, kembang turi, dan timun krai. Timun krai di Malang ukurannya lebih kecil. Teksturnya pun lebih lembek dan memiliki rasa layaknya labu saat direbus.

Pecel Madiun juga memasukkan petai Cina, kecambah, kemangi, dan kacang panjang. Aneka sayuran itu dipadukan dengan serundeng kelapa yang dimasak dengan daging sapi dendeng ragi. "Kelapanya untuk pecel, daging sapi nggak dipakai. Kalau mau tambah daging boleh, tapi yang wajib ada itu serundeng," jelas pria lulusan Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Andhika juga mencampur pecel dengan tempe orek kering dan sedikit nasi. Dia sengaja tak menyertakan sayur bayam dalam racikan pecelnya. Berdasarkan pertimbangan waktu, bayam dikenal menjadi beracun jika sudah melewati tiga jam. "Terus ada rempeyek kacang dan ada daun jeruk purut," jelasnya.

Dari segi bumbu, Andhika menyatakan pecel Madiun memiliki perbedaan khusus. Bumbunya tidak menggunakan kencur tapi lebih menonjolkan daun jeruk.

Bahan bumbu pecel terdiri dari kacang tanah sangrai, cabai, gula merah, jeruk purut, dan garam. "Khasnya memang menonjolkan daun jeruk purut. Kalau Malang, ada kencurnya. Ini sebenarnya kelaziman saja tergantung selera," tambah dia.

Tekstur sambal pecel berbahan kencur biasanya lebih encer. Tampilan ini berbeda jauh dengan sambal pecel Madiun yang agak kental. Warnanya juga lebih gelap karena pengaruh dari gula merah.

Untuk melengkapi kenikmatan menyantap pecel, Andhika juga menyajikan bahan pelengkap lain. Pecel tersaji ditemani dengan tempe mendoan khas Madiun, bakwan jagung, dan rempeyek. Ada pula ayam goreng, paru, babat, sate usus, dan telur puyuh serta kerupuk puli yang berbahan dasar beras.

Andhika mengungkapkan satu lagi khas dari pecel Madiun yakni pemanfaatan alas makanan berbahan anyaman bambu yang dibentuk menyerupai mangkok. Di Jawa, bentuk ini biasa disebut pincuk. Anyaman bambu itu dialasi selembar daun pisang kemudian baru digunakan untuk menata pecel.

Menurut Andhika, sangat jarang menemukan pecel menggunakan pincuk di Kota Malang. Salah satu alasannya kemungkinan karena harga pincuk yang relatif mahal. "Kalau di Madiun memang tidak pakai piring, biasanya pakai daun pisang yang ditusuk lidi," jelasnya.

Satu porsi pecel di warung Andhika dijual seharga Rp 6 ribu per porsi. Menu tambahan seperti gorengan tempe dan bakwan dihargai Rp 1.000, sate usus dan telur puyuh Rp 3 ribu, serta paru dan babat Rp 7 ribu. Untuk ayam goreng dijual Rp 6 ribu sementara telur dan sosis goreng Rp 2 ribu.

Untuk dapat menikmati pecel ini, pengunjung dapat mampir mulai pukul 16.00 WIB hingga sahur. Di luar bulan Ramadhan, kedai milik Andhika hanya beroperasi sampai pukul 24.00 WIB.

Seorang pembeli bernama Arifin mengaku menyukai pecel. Tak hanya pecel yang khas dari Madiun, ia juga menyukai pecel asal daerah lainya seperti Malang, Nganjuk, dan sebagainya. Selain lezat, kuliner tersebut juga sehat karena berbahan sayuran.

Di antara berbagai jenis pecel, Arifin lebih menyukai pecel beralas daun jati. Selain lebih manis, daun jati bisa memberi efek warna merah pada nasi pecel.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA