Senin, 14 Syawwal 1440 / 17 Juni 2019

Senin, 14 Syawwal 1440 / 17 Juni 2019

 

Muslim London Gelar Iftar Bersama Non-Muslim

Selasa 21 Mei 2019 07:10 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Reiny Dwinanda

Berbuka puasa bersama di London. (Ilustrasi)

Berbuka puasa bersama di London. (Ilustrasi)

Foto: zimbio
Non Muslim dapat mengenal budaya komunitas Muslim London saat iftar bersama.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Umat Islam di London, Inggris mengadakan iftar atau buka puasa bersama yang dihadiri ratusan orang, termasuk non muslim. Buka puasa bersama itu diselenggarakan oleh komunitas amal Muslim Outreach dan Asosiasi Muslim Kingston.

“Saudara-saudara terkasih, saya ingin menyambut Anda disini bergabung dengan kami mengalami salah satu tradisi kenabian di bulan suci Ramadhan,” kata pimpinan Asosiasi Muslim Kingston, Syaikh Abdus Samad, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (20/5).

“Kita semua tahu Ramadhan merupakan bulan di mana kita menjauhkan diri dari makan dan minum, namun lebih dari itu, ini adalah bulan di mana kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan melalui sabar, refleksi, dan tentu saja berbuat kebaikan kepada orang di sekitar kita, terlepas mereka Muslim atau non Muslim,” katanya.

Selama acara iftar itu, para tamu memperoleh kesempatan untuk mempelajari sejarah singkat beberapa nabi. Selain itu, mereka juga mendapat pengetahuan tentang  aspek-aspek penting lainnya dari bulan suci Ramadhan.

Tamu iftar dijamu dengan hidangan ayam maroko, couscous domba, shawarma, dan samosa pakistan. Selain itu, ada juga makanan penutup dan buah-buahan. Melalui makanan itu para tamu pun dapat mengenal budaya komunitas Muslim yang tinggal di London.

“Saya selalu berpikir bahwa umat Muslim tidak minum atau makan, tetapi setelah hari ini saya telah belajar bahwa Ramadhan mewakili makna spiritual yang lebih dalam bagi mereka yang mengamatinya,” kata Istah seorang mahasiswa kedokteran yang belajar di Universitas Oxford.

Begitu pun Yesaya, seorang warga yang terkesan pada masyarakat Muslim yang mampu mempertahankan energi sepanjang hari dan menyediakan hidangan buka puasa untuk pertemuan besar di malam hari sebelum akhirnya pergi ke masjid untuk shalat tarawih.

“Saya bukan seorang Muslim, tetapi saya mencoba berpuasa beberapa hari di bulan Ramadhan untuk mengalami apa yang dialami tetangga Muslim saya. Tapi saya belum pernah menghadiri buka puasa dan karenanya saya sangat senang berada di sini, ini melengkapi pengalaman puasa saya,” kata Alex, seorang penduduk setempat.

“Saya berharap komunitas ini terus mengadakan acara seperti ini. Sayangnya, umat Islam salah digambarkan oleh media di AS dan jadi saya percaya satu-satunya cara kita dapat belajar tentang mereka adalah dengan mengalami apa yang mereka alami dan berbuka puasa adalah salah satu contohnya, ” kata Alex.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA