Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

 

Banyak Pintu Rizki Allah dari Jual-Beli

Senin 27 Jun 2016 06:11 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Warung makan. Ilustrasi

Warung makan. Ilustrasi

Foto: Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri sekaligus Direktur Pusat Kajian Hadis (PKH) Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA mengungkapkan, Allah SWT punya banyak pintu rizki. Pintu keberkahan Allah SWT lebih besar dari pintu penjualan.

''Pintu keberkahan yang pasti adalah ketika jual beli kita tidak melanggar aturan Allah SWT. Banyak sekali cerita orang yang tetap meraih keuntungan, bahkan meningkat ketika mereka membuka warungnya di sore hari menjelang buka atau setelah waktu berbuka,'' ungkap Lutfi Fathullah dalam Konsultasi Ramadhan Republika beberapa waktu lalu.

Penegasan doktor hadis dari Universitas Damaskus Syria dan Universitas di Yordan dan Malaysia ini menjawab pertanyaan seseorang yang menceritakan kawannya tetap berjualan selama bulan suci Ramadhan. ''Apakah membuka warung makan selama Ramadhan tetap diperbolehkan, karena tidak semua Muslim berpuasa?''

Alumnus Pondok Modern Daarussalam Gontor Ponorogo ini menjelaskan, membuka usaha warung makan di bulan Ramadhan pada waktu orang berpuasa (siang hari) mempunyai beberapa kemungkinan: Pertama, Haram. Jika warung tersebut berada di komunitas Muslim.

Kedua, Halal, jika menjualnnya di komunitas non-Muslim seperti di sekolah non-Muslim dan kampus non-Muslim. Ketiga, Mubah, jika menjualnya di tempat orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa seperti di bandara, stasiun kereta api, serta terminal bus.

Ustaz Lutfi kemudian mengungkapkan dalil yang menjadi landasan pendapat yang mengharamkan membuka warung makan di bulan Ramadhan. Firman Allah SWT dalam surah al-Ma’idah [5]:2. "Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."

Menurut Ustaz Lutfi, tidak berpuasa bagi mereka yang wajib berpuasa adalah perbuatan dosa, menolong melakukan perbuatan dosa adalah hal yang haram. Oleh karena itu menyediakan makan di waktu orang wajib berpuasa adalah haram.

Namun demikian, jika membuka warung di tempat yang mubah, ia menyarankan kepada pemilik warung untuk memberikan peringatan bahwa pihaknya menjual makanan hanya untuk mereka yang tidak wajib berpuasa. Hal ini agar para calon pembeli sadar warung nasi ini khusus buat mereka yang punya uzur tidak berpuasa.

Banyak pedagang yang balik bertanya, ustaz, kalau kami tidak berdagang pagi sebagaimana biasanya, lantas kami akan makan dari mana? Wong ini ladang rezeki kami? Bagi mereka yang berpendapat seperti ini, Ustaz Lutfi balik bertanya. "Siapakah yang memberi rezeki Anda? Apakah pembeli? Kalau jawabnya iya, berapa banyak pembeli curang nggak bayar dan melapor jumlah yang berbeda atau makan lalu ngutang dan kabur?''

Ustaz Lutfi menjelaskan, "Yang memberi rezeki kita adalah Allah SWT. Allah punya banyak pintu, pintu keberkahan lebih besar dari pintu penjualan. Nah, pintu keberkahan yang pasti adalah ketika jual beli kita tidak melanggar aturan Allah. Banyak sekali cerita orang yang tetap meraih keuntungan, bahkan meningkat keuntungannya ketika mereka membuka warungnya di sore hari menjelang buka atau setelah waktu berbuka.''

Ustaz Lutfi menyarankan kepada para pemilik warung, di bulan Ramadhan khususnya, untuk tidak memperdengarkan lagu-lagu yang tidak bermakna. Alangkah baiknya selama Ramadhan (semoga bisa terus) hanya memperdengarkan bacaaan Alquran dari berbagai qori’ atau ceramah dari berbagai ustadz. Ia menuebutkan, Laman www.warungustad.com dapat membantu mencari rekaman ceramah dari puluhan ustaz populer secara gratis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Shalat Istisqa di Lombok

Jumat , 18 Oct 2019, 10:56 WIB