Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

 

Peradaban Kota Madinah Bisa Diterapkan di Medan

Jumat 15 Juni 2018 11:27 WIB

Red: Ani Nursalikah

Toleransi (ilustrasi)

Toleransi (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
peradaban yang dibangun Nabi Muhammad dibangun atas dasar kesadaran dan kebersamaan.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Khatib H Ahmad Zuhri mengatakan hubungan Idul Fitri dengan awal sebuah peradaban Kota Madinah dapat dipelajari dan diterapkan di Kota Medan, Sumatra Utara.

"Kota Medan yang dikenal sangat majemuk dan plural di bawah slogan 'Medan Rumah Kita'," kata Ahmad dalam khutbahnya pada shalat Idul Fitri 1439 H, di Lapangan Merdeka Medan, Jumat (15/6).

Menurut Ahmad, peradaban yang dibangun Nabi Muhammad SAW berpondasikan empat pilar yang dibangun atas dasar kesadaran dan kebersamaan. "Hal yang sama Insya Allah dapat diterapkan di Kota Medan yang tercinta ini," ujarnya.

Ia mengatakan, keempat pilar tersebut, yakni pertama pembentukan pranata sosial merupakan sistem tata kelakuan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat. Pranata sosial yang dibangun oleh Rasullulah adalah masyarakat yang taat pada aturan hukum dengan membangun rasa persaudaraan antara pendatang dari Makkah (Muhajirin) dan penduduk asli (Anshar) Madinah.

Dalam istilah sekarang, Rasullah membangun civil society atau masyarakat madani, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi aturan-aturan etika, adat, budaya dan hukum tanpa ada paksaan dari siapa pun dan tanpa ada membedakan terhadap siapa pun. Upaya menjadikan Kota Medan seperti Kota Madinah ketika itu adalah satu hal yang niscaya dan pasti. Atas kerja sama semua masyarakat Kota Medan dengan berlatar belakang yang beragam, agama, suku, bahasa dan ras.

"Jika semua bersatu melakukan nilai dan tuntutan pranata sosial secara kolektif dan bersamaan, niscaya Kota Medan akan menjadi kota yang nyaman, sejuk. damai dan sejahtera," kata Dosen Tafsir Alquran Universitas Islam Negeri Sumatra Utara (UINSU) itu.

Ahmad menyebutkan, kedua adalah kebersamaan. Setelah berhasil membangun Madinah, antara lain dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar, bukan berarti Rasullah SAW terbebas dari kritik dan tantangan. Namun, semua kritik disikapi dengan bijak demi keutuhan perjuangan dan peradaban Madinah yang baru saja terbangun.

Ketiga adalah kesalehan sosial. Setelah berpuasa selama sebulan, Rasullah SAW menganjurkan untuk membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri ditunaikan. Zakat fitrah menjadi penyempurnaan amal kebaikan sepanjang bulan suci Ramadhan.

Sedangkan, kempat adalah toleransi. Agama Islam pada prinsipnya adalah agama yang sangat tasamuh/toleran.

Dalam hadis nabi: "Aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan toleran. "adalah konsep moderat untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerja sama di antara komponen-komponen masyarakat yang berbeda. Baik beda agama, suku bangsa, etnis, bahasa dan budaya.

"Toleransi merupakan konsep agung yang mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran-ajaran agama, termasuk Islam," kata Ketua BWI Kota Medan itu.

Dalam shalat Idul Fitri 1439 H itu, tampak Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, Wali kota Medan HT Dzulmi Eldin dan puluhan ribu ummat Islam Kota Medan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES