IZI Sambangi Daerah Terisolasi di Bekasi

Red: Friska Yolanda

 Selasa 22 May 2018 06:10 WIB

IZI menyerahkan bantuan ke salah satu warga di Muara Gembong Foto: Humas IZI IZI menyerahkan bantuan ke salah satu warga di Muara Gembong

Akses menuju Kampung Bulak cukup sulit dilalui.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Kampung Bulak Tanggul, Desa Pantai Harapan Jaya, Kecamatan Muara Gembong yang terletak di Kabupaten Bekasi tidak mudah diakses. Padahal, ia terletak tak jauh dari ibu kota negara.

Kawasan yang bisa dikatakan terbelakang membuat para tim berusaha keras melintasi jalur terjal berbatu. Perlu waktu cukup lama untuk melewati jalan sepanjang Muara Gembong. Belum lagi setelahnya harus menyebrangi sungai dengan sebuah kapal kecil menuju lokasi Kampung Ramadhan.
Begitu pun yang dilakukan warga Muara Gembong setiap hari. Mereka harus sebrangi sungai dengan kapal menuju jalan umum maupun pusat kota. Sekali naik membutuhkan ongkos sebesar 15.000.
Sebelumnya mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki lima kilometer menuju jalan umum. Di lokasi tersebut, tidak kendaraan umum dan masih sangat sedikit warga yang memiliki kendaraan seperti halnya sepeda motor.

photo
Anak-anak menikmati buka puasa.


Meski wilayah Bekasi disebut-sebut sebagai kawasan penyangga ibu kota Jakarta, rupaya hal itu tidak berlaku untuk wilayah Muara Gembong. Sulitnya akses transportasi dan minimnya penunjang infrastruktur membuat Muara Gembong kerap disebut daerah pedalaman.
"Bisa dikatakan kawasan kami ini terisolir. Tidak banyak orang yang tahu, serta masih sedikitnya pihak yang memberdayakan warga di lokasi kami. Dan warga di sini kalau mau ke kota bisa habis di ongkos karena saking jauh jarak perjalanan," ujar Hendri Saluanudin (40 tahun), salah satu warga asli Muara Gembong.
Kecamatan Muara Gembong merupakan satu dari 23 Kecamatan di Kabupaten Bekasi. Sebagai daerah terluar, kawasan pesisir itu seakan tak terjamah hingga banyak warganya hidup di bawah garis kemiskinan. Letak Kecamatan Muara Gembong berada di pesisir utara Kabupaten Bekasi, kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan laut Jawa.
Topografi Kecamatan Muara Gembong juga bisa dikatakan unik. Masyarakat dekat pesisir pantai lebih dominan berprofesi sebagai nelayan. Namun, warga yang tinggal sedikit lebih ke selatan mayoritas berpfoesi sebagai buruh tani.
Seperti halnya di Muara Gembong, mayoritas warga hidup bergantung pada hasil panen padi. Namun, kehidupan buruh tani warga Kampung Bulak tidaklah seindah hijaunya hamparan ladang padi yang membentang sepanjang mata memandang.
"Mayoritas masih bergantung pada profesi bertani, karena kemampuan bercocok tanam sudah diwariskan turun temurun dari orang tua terdahulu. Sebagiannya ada nelayan, kuli bangunan dan buruh pabrik," ujarnya.
Buruh tani di sini, kata Hendri, merupakan profesi yang diamanatkan untuk pada warga mengelola lahan untuk bertani oleh tuan tanah. Artinya warga Kampung Bulak bukan pemilik tanah yang ia garap sebagai ladang padi.
"Jadi warga disini sudah banyak yang tidak punya tanah, kebanyakan dari mereka garap lahan orang," jelas Hendri
Fenomena itu muncul lantaran banyak warga yang dulunya hobi menjual tanah kepada orang-orang di luar kampung. Hingga akhirnya warga terhimpit lantaran tak lagi menjadi tuan tanah di kampung sendiri.
"Tanah di sini (Kampung Bulak) mayoritas sudah punya orang luar, ada yang dari Jakarta, ada yang dari Kota Bekasi, orang sini aslinya justru udah nggak punya tanah," jelasnya
Hendri menambahkan, dari hasil buruh tani itu, jika dirata-ratakan penghasilan warga Kampung Bulak jauh dari kata layak. Belum lagi, kondisi hasil bertani sangat bergantung pada keberhasilan panen.
"Tidak besar penghasilan mereka, kisaran Rp25.000 hingga Rp50.000 per harinya. Itu pun bila dalam kondisi panen dan laut sedang tidak pasang, bila sebaliknya ya seringkali mereka kekurangan pangan. Selain hama, faktor penghambat lain yaitu banjir rob, karena letak geografis berada di pesisi utara yang dekat dengan laut," tutur Hendri.
Selain itu, minimnya kepekaan masyarakat akan pentingnya pendidikan juga diperkiran menjadi faktor lambannya pertumbuhan taraf kehidupan masyarakat.
"Mayoritas pendidikan warga Kampung Bulak hanya sebatas tamatan SMP. Sisanya, banyak masyarakat yang enggan melanjutkan ke tingkat SMA. Tapi alhamdulillah sejak lima tahun terakhir sudah mulai banyak warga Kampung Bulak yang tamat dengan ijazah SMA," jelasnya.
Dari tamatan SMA itu, kata dia, ada yang memilih berprofesi sebagai buruh tani. Ada pula yang memilih mencari pekerjaan di luar sebagai pegawai pabrik, meski jumlahnya belum terlalu banyak.
"Nah kalau yang lanjut sampai kuliah itu masih minim banget, satu kampung paling baru ada lima orang," ujar Hendri
Kesulitan yang dihadapi warga Kampung Bulak secara tidak langsung menjadi cermin bagaimana sebuah wilayah yang tak tersentuh pembangunan harus bertahan meski hidup kian terhimpit. Oleh karenanya, Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Inisiatif Zakat Indonesia memilih Muara Gembong sebagai salah satu lokasi Kampung Ramadhan tahun 2018.
"Selain membantu para warga di sini dengan sajian berbagai program selama bulan ramadhan, menyalurkan paket sembako, juga sebagai upaya untuk membantu perkembangan hidup di desa Pantai Harapan Jaya," kata Manager Customer Relationship Management IZI, Rizqi Rohmat Fahmi Hidayat.
Kampung Ramadhan ini juga menjadi sarana untuk menginformasikan kepada publik bahwa masih ada lokasi penyangga Ibukota yang terbelakang, bahkan terisolir.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X