Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 Februari 2019

Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 Februari 2019

 

Ombudsman Awasi Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Sabtu 16 Jun 2018 11:38 WIB

Red: Muhammad Hafil

Cermat mencari tiket pesawat bisa membuat Anda mendapatkan harga terbaik bagi anggaran liburan.

Cermat mencari tiket pesawat bisa membuat Anda mendapatkan harga terbaik bagi anggaran liburan.

Foto: pexels
Harga tiket pesawat naik berlipat-lipat.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAYAPURA -- Ombudsman Repulik Indonesia (ORI) Perwakilan Provinsi Papua menduga ada spekulasi harga tiket pesawat. Sehingga harganya naik tiga kali lipat

Kepala Ombsman RI Perwakilan Papua Oliv Sabar Iwanggin di Jayapura, Sabtu (16/6), mengatakan, melonjaknya harga tiket pesawat dari dan ke Papua menjelang hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah menjadi catatan tersendiri.

Oliv mencontohkan, harga tiket pesawat Garuda Indonesia dari Jayapura-Biak yang biasanya Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu per orang naik tiga kali lipat menjelang Idul Fitri menjadi Rp 4 juta per orang. Selanjutnya, harga tiket pesawat dari Jayapura ke Jakarta yang sebelumnya Rp 2,5 juta naik menjadi Rp 6juta. Tak hanya Garuda, maskapai penerbangan lain seperti Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air juga naik.

"Apalagi kalau penumpang yang bersangkutan transit/mengganti pesawat lain, harganya mahal," kata Oliv.

Di antaranya seperti Batik, dan Sriwijaya Rp 9.638.000 per orang, Garuda dan Sriwijaya Rp 9.948.200 per orang, Batik dan Sriwijaya Rp 10.285.900. "Kami menduga harga ini pasti akan bertahan hingga arus balik selesai barulah harga kembali normal," katanya.

"Padahal hari raya ini kan kepentingan masyarakat banyak, seharusnya pihak maskapai penerbangan memberikan kemudahan bagi masyarakat bukan sebaliknya memanfaatkan momentum hari raya untuk meraup untung," tambahnya.

"Ini terjadi spekulasi harga untuk menguntungkan perusahan," ujarnya.

General Manager Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia Mac Fee mengatakan dirinya tidak tahu menahu terkait harga tiket transit yang mahal. Ini karena manajemen setiap maskapai penerbangan berbeda.

Untuk Garuda Indonesia, kata dia, harganya terjangkau dan naik sesuai dengan time limit dan jumlah pemesan namun tidak terlalu mahal. Jika tidak pemesannya sepi maka harganya turun, namun jika pemesannya banyak maka hargannya juga di naikkan namun tidak sampe melebihi batas kewajaran.

"Memang perusahaan mencari keuntungan tetapi ada aturan pemerintah yang harus diikuti tidak boleh lebih dari aturan yang ditetapkan," tambah dia.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta operator penerbangan untuk menawarkan harga wajar selama periode mudik lebaran nanti. Ia meminta maskapai untuk tidak menjual tiket terlalu tinggi mendekati batas harga atas agar tidak membebani masyarakat.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA