Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

 

Autentisitas Itsbat (1)

Senin 23 June 2014 19:55 WIB

Red: Chairul Akhmad

Suasana sidang itsbat di kantor Kementerian Agama, Jakarta.

Suasana sidang itsbat di kantor Kementerian Agama, Jakarta.

Foto: Antara/Yudhi Mahatma/ca

Oleh: Muh Hadi Bashori

Dalam memenuhi perintah hadis, penentuan awal bulan qamariah selalu saja mengundang polemik.

Tidak hanya dalam wacana, polemik juga sekaligus terkait dengan implikasinya pada penentuan awal di mulainya ibadah puasa. Bahkan, tidak jarang, perbedaan pendapat tentang sistematika penentuan awal bulan qamariah menimbulkan disharmonitas di kalangan umat Islam.

Di Indonesia, yang penduduk Muslimnya merupakan terbesar negara bangsa ini, hampir selalu terjadi perbedaan di dalam memahami dan mengaplikasikan pesan hadis Nabi Muhammad SAW dalam menentukan awal bulan qamariah.

Sehingga, hampir setiap menjelang awal dan akhir Ramadhan, masyarakat awam selalu mempertanyakan, kapan awal dan akhir Ramadhan? Menariknya, perbedaan penentuan awal bulan tidak hanya berbeda satu hari, bahkan berhari-hari.

Pemicu perbedaan

Kontroversi definisi hilal terkait kriteria penentuan awal bulan qamariah ini telah menyebabkan energi umat Islam terkuras.

Di sisi lain, akibat terbesar dari adanya kontroversi ini tentu kembali kepada masyarakat Islam pada umumnya yang harus dibuat bingung menentukan pilihan mana yang harus diikuti di antara pendapat-pendapat yang ada.

Kecuali bagi masyarakat Islam yang menjadi bagian mazhab atau ormas tertentu, biasanya mereka akan lebih mengikuti pendapat mazhab atau ormasnya tersebut.

Bahkan, daripada mengikuti keputusan pemerintah akibat kedekatan kultural dan ikatan emosional. Namun, bagi masyarakat yang tidak terkait dengan mazhab tertentu, tentu akan mengalami kesulitan untuk menjatuhkan pilihan.

Potensi besar perbedaan penentuan awal Ramadhan 1433 tahun ini akibat belum adanya kesepakatan definisi hilal terkait dengan penentuan. Di sisi lain, pemandangan tersebut menjadi bentuk ketidakkompakan umat Islam.

*Praktisi Falak pada Pusat Kajian dan Layanan Falakiyah IAIN Walisongo Semarang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES