Alquran adalah Rahasia di Balik Keberkahan Puasa Ramadhan

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

 Selasa 05 May 2020 01:40 WIB

Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Alquran. Ilustrasi Alquran Foto: pxhere Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Alquran. Ilustrasi Alquran

Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ibadah puasa Ramadhan mengandung dimensi ketuhanan dan kemanusiaan yang berkaitan dengan sikap solidaritas.  

Direktur Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta, KH Dr Muchlis M Hanafi menjelaskan, ibadah sholat dimensi ketuhanannya adalah hubungan manusia dengan Allah SWT. Sementara, dimensi kemanusiaan dalam sholat seperti yang disampaikan dalam Alquran.

"Dalam Alquran disampaikan bahwa sholat yang berkualitas adalah yang mampu mencegah pelakunya (orang yang sholat) dari perbuatan keji dan mungkar," kata Prof KH Muchlis kepada Republika.co.id, belum lama ini.  

Baca Juga

Dia menyampaikan, dalam surat Al Ma'un disampaikan ada orang yang melaksanakan sholat tapi mendapat kecaman dari Allah SWT. Yakni orang yang sholat tapi tidak memberi dan menolong orang lain.  

Ibadah-ibadah lainnya termasuk puasa Ramadhan juga memiliki dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Dimensi ketuhanan dalam ibadah puasa seperti yang Allah sampaikan, puasa Ramadhan itu adalah milik Allah dan Allah yang akan memberikan balasannya. 

"Tapi dari sisi dimensi kemanusiaan ada hadis yang mengatakan, orang yang tidak meninggalkan perbuatan dan ucapan yang keji, maka Allah tidak butuh puasanya," ujar Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama ini. 

Muchlis juga menyampaikan, Ramadan adalah bulan diturunkan Alquran. Seperti diketahui Alquran adalah akhlak Rasulullah SAW. Kalau melihat ini ada keterkaitan yang sangat erat antara puasa Ramadhan dengan sikap solidaritas.  

Dia menerangkan, ada hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan hadis ini juga ada dalam Shahih Bukhari. 

Dalam hadits itu dikatakan, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanannya lebih meningkat di bulan Ramadhan. Yaitu saat Malaikat Jibril menjumpainya pada Ramadhan setiap malam.  

"Apa yang dilakukan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad, Malaikat Jibril mengajarkan bacaan Alquran, kemudian mendengar lagi Nabi membacakan Alquran," ujarnya.

Menurut dia, ketika setiap malam Nabi Muhammad SAW bertemu Malaikat Jibril, Rasulullah menjadi sangat dermawan melebihi angin yang bertiup sangat kencang. 

Artinya bila Ramadhan ini diisi dengan Alquran, kemudian Alquran menyinari kalbu seorang Muslim, pasti Muslim itu akan terdorong untuk berbagi, seperti yang terjadi pada Rasulullah pada Ramadhan menjadi sangat dermawan.

"Itu adalah kaitan yang erat antara Ramadhan, Alquran, dan kedermawanan," ujar doktor dalam bidang tafsir dan ilmu-ilmu Alquran dari Universitas Al-Azhar di Kairo ini.  

Dia menyampaikan, pada Ramadan ini pahala amal kebajikan dilipat gandakan. Pahala dari ibadah fardhu juga dilipat gandakan hingga 70 kali lipat. Bahkan pahala dari ibadah sunnah dinilai seperti pahala ibadah fardhu. 

Tentu pada Ramadhan ini seharusnya menjadi motivasi seseorang untuk melakukan amal kebajikan termasuk berinfak dan bersedekah. 

Selain zakat fitrah yang wajib ditunaikan setiap Muslim yang mampu dan melakukan ibadah puasa. Ada juga zakat mal yang biasanya ditunaikan di bulan Ramadhan karena mengharap pahala yang berlipat ganda.  

Puasa, menurut dia, melatih diri untuk berempati, karena saat berpuasa bisa membayangkan orang yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya untuk makan dan minum. 

"Kita bisa merasakan penderitaan mereka oleh karena itu dengan melatih diri dan dengan berpuasa diharapkan orang bisa memiliki empati kepada mereka yang tidak punya, dan terlebih dalam situasi (pandemi Covid-19) seperti ini," ujarnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X