Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Panen Semakin Ramai, Harga Gabah Petani Menurun

Selasa 19 Apr 2022 12:15 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini

Petani memanen padi di areal sawah desa Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (20/3/2021). Memasuki pertengahan April 2022, areal persawahan di Kabupaten Indramayu mulai memasuki puncak panen raya untuk musim tanam rendeng 2021/2022. Hal itu membuat harga gabah di tingkat petani menurun.

Petani memanen padi di areal sawah desa Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (20/3/2021). Memasuki pertengahan April 2022, areal persawahan di Kabupaten Indramayu mulai memasuki puncak panen raya untuk musim tanam rendeng 2021/2022. Hal itu membuat harga gabah di tingkat petani menurun.

Foto: ANTARA/Dedhez Anggara
Kabupaten Indramayu mulai memasuki puncak panen raya

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Memasuki pertengahan April 2022, areal persawahan di Kabupaten Indramayu mulai memasuki puncak panen raya untuk musim tanam rendeng 2021/2022. Hal itu membuat harga gabah di tingkat petani menurun.

‘’Panen semakin ramai, harga semakin turun,’’ kata Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, Selasa (19/4/2022).

Baca Juga

Sutatang menyebutkan, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani, untuk gabah dari padi jenis IR/Ciherang di kisaran Rp 4.000 – Rp 4.200 per kilogram. Sedangkan gabah dari padi jenis kebo, harganya Rp 3.800 per kilogram.

Harga tersebut sudah menurun dibandingkan saat awal masa panen. Pada pertengahan Maret 2022, harga GKP jenis IR masih mencapai Rp 4.800 per kilogram. Sedangkan gabah dari jenis kebo, harganya di kisaran Rp 4.000 per kilogram.

Ketua KTNA Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Waryono, menambahkan, gabah varietas kebo saat ini memang terus anjlok. Bahkan, harga GKP varietas kebo di wilayahnya hanya di kisaran Rp 3.600 – Rp 3.700 per kilogram.

‘’Harga ini kan yang menentukannya pasar. Saya juga tidak tahu penyebabnya kenapa harga gabah kebo anjlok. Kalau varietas lainnya, seperti Ciherang, memang masih diatas Rp 4.000 per kg,’’ kata Waryono.

Waryono mengakui, meski harganya anjlok, kualitas maupun produksi panen saat ini cukup bagus. Yakni, sekitar tujuh ton per hektare untuk berat kotor atau 5,6 ton per hektare untuk berat bersihnya.

Namun, dengan harga gabah yang hanya di kisaran Rp 3.600 per kilogram, kata Waryono, maka hasil yang diperoleh petani tidak bisa menutup biaya produksi yang saat ini mahal.

Waryono menyebutkan, biaya produksi yang dikeluarkan petani rata-rata Rp 10 juta – Rp 12 juta per hektare per musim. Sedangkan bagi petani penggarap, angka itu ditambah dengan biaya sewa sawah yang mencapai Rp 15 juta per hektare per tahun.

‘’Biaya produksi sekarang mahal karena pupuknya mahal, obat-obatan (anti hama) juga mahal,’’ kata Waryono.

Waryono mencontohkan, untuk pupuk, para petani di daerahnya hanya memperoleh jatah pupuk subsidi sebanyak 3,75 kuintal. Dengan kebutuhan pupuk enam kuintal, maka sisanya harus menggunakan pupuk non subsidi yang harganya mahal.

Waryono mengatakan, dengan hasil 5,6 ton per hektare dan harga Rp 3.600 per kilogram, maka hasil yang didapat petani sekitar Rp 20 juta. Setelah dipotong dengan biaya tanam, maka keuntungan yang didapat petani sekitar Rp 10 juta untuk satu musim tanam yang berlangsung empat bulan.

‘’Ya itu kalau petaninya punya sendiri sawahnya, mereka masih bisa untung walau sedikit. Sedangkan bagi petani penggarap, mereka pasti mengalami kerugian,’’ tukas Waryono.

Waryono menambahkan, meski harga gabah rendah, tetapi petani terpaksa tetap menjualnya. Pasalnya, mereka terdesak kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan untuk modal tanam gadu 2022.

Waryono berharap, pemerintah bisa menaikkan harga gabah petani. Selain itu, membantu petani agar bisa meringankan biaya tanam.

Sementara itu, Pimpinan Bulog Cabang Indramayu, Dandy Arianto, mengaku siap menyerap beras/gabah petani, termasuk varietas kebo. Namun, beras/gabah yang diserap itu harus memenuhi sejumlah kriteria agar bisa masuk ke gudang Bulog.

‘’Prinsipnya, kita membeli gabah/beras dari para petani,’’ kata Dandy.

Dandy menyebutkan, target pengadaan Bulog Indramayu pada 2022 mencapai 20 ribu ton setara beras. Dari jumlah itu, saat ini baru tercapai sepuluh persen, atau sekitar 2 ribu ton setara beras.

Dandy mengungkapkan, meski pengadaan masih jauh dari target, namun stok beras yang tersimpan di gudang Bulog Indramayu saat ini dipastikan dalam kondisi aman. Dia menyebutkan, stok beras yang dimiliki Bulog Indramayu saat ini mencapai 25 ribu ton.

‘’Stok yang ada saat ini cukup untuk dua tahun kedepan,’’ kata Dandy. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA