Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Waspada, Serangan Jantung, Strok, Hingga Diabetes Tipe 2 Bisa Terpicu oleh Kurang Tidur

Selasa 12 Apr 2022 07:22 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Sakit jantung (ilustrasi). Insomnia telah dikaitkan dengan perkembangan masalah jantung.

Sakit jantung (ilustrasi). Insomnia telah dikaitkan dengan perkembangan masalah jantung.

Foto: www.freepik.com.
Berbagai penelitian telah mengungkap bahaya gangguan tidur terhadap kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Apakah Anda sering mengalami gangguan tidur yang bikin tetap terjaga selama berjam-jam hingga larut malam? Berusahalah untuk mengatasinya. Sebab, insomnia ternyata bisa memicu komplikasi yang mematikan, seperti strok hingga serangan jantung.

Dilansir laman The Sun, Selasa (12/4/2022), bahaya hidup dengan insomnia telah ditunjukkan berkali-kali dalam penelitian. Seiring waktu, kurang tidur dapat membuat orang sulit menjalani hidup sehat, karena kurangnya motivasi untuk makan makanan yang cukup bergizi atau berolahraga.

Baca Juga

Di samping itu, kurang tidur tampaknya juga menyebabkan perubahan dalam fisiologi tubuh. Misalnya dengan meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah.

Masalah jantung

Insomnia telah dikaitkan dengan perkembangan masalah jantung. Orang dengan kecenderungan genetik terhadap insomnia berisiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner, gagal jantung, dan strok, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Circulation American Heart Association pada 2019.

Sementara itu, penelitian lainnya di China menemukan orang dengan ketiga gejala insomnia 18 persen lebih mungkin mengalami strok atau penyakit jantung daripada mereka yang tidak memiliki gejala. Temuan tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Neurology.

Risiko insomnia tidak berhenti di situ. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada April 2022 menunjukkan setengah dari mereka yang pernah mengalami serangan jantung mengalami insomnia.

Ini memperburuk kemungkinan memiliki masalah terkait jantung lain yang progresif. Studi tersebut mengamati 1.068 pasien rata-rata 16 bulan setelah serangan jantung dan prosedur untuk membuka arteri yang tersumbat.

Strok

Gagal mendapatkan tidur yang cukup juga dapat meningkatkan kemungkinan strok. Para ilmuwan dari McMaster University, Kanada, memantau kesehatan 116.632 orang dewasa selama delapan tahun setelah menanyai mereka tentang tidur mereka.

Selama waktu itu, 4.381 meninggal dan 4.365 lainnya menderita masalah kardiovaskular utama, seperti serangan jantung atau strok. Temuan 2018 menunjukkan tidur kurang dari enam jam sehari meningkatkan risiko sebesar sembilan persen.

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian lain, terlalu banyak tidur juga berisiko. Penelitian menunjukkan tidur sembilan hingga sepuluh jam meningkatkan risiko serangan jantung atau strok sebesar 17 persen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA