Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Kehebohan Medsos dan Tekanan Ekstra untuk Tim-Tim Olahraga

Ahad 17 Apr 2022 03:48 WIB

Red: Israr Itah

Para pemain timnas basket putra Indonesia saat melawan Lebanon di FIBA World Cup 2023 Qualifiers.

Para pemain timnas basket putra Indonesia saat melawan Lebanon di FIBA World Cup 2023 Qualifiers.

Foto: FIBA ASIA
Medsos jadi sarana menyuarakan uneg-uneg langsung penggemar kepada timnya.

Oleh : Israr Itah, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Akhir tahun lalu, sebelum Piala AFF 2020 digelar pada Desember, kritikan menyasar pelatih Shin Tae-yong. Mulai dari gaya bermain, hasil uji coba, sampai pemilihan pemain. Salah satu yang kencang disuarakan adalah tidak dipanggilnya penyerang tajam Liga 1 Ilija Spasojevic. Spaso kinclong bersama Bali United saat Shin memanggil pemain. Lima gol ia cetak dalam lima laga. Hingga akhir musim Liga 1 2021/2022, atau tiga bulan selepas final Piala AFF 2020, Spaso menahbiskan diri sebagai top skorer dengan 23 gol.

Shin memuji Spaso sebagai pemain hebat. Namun kala itu Shin bergeming. Dia tetap pada pilihannya tak memasukkan pemain naturalisasi ini. Di mata Shin, gaya main Spaso tak cocok dengan pola yang diinginkannya. Shin lebih memilih Hanis Saghara, Ezra Walian, Dedik Setiawan, dan Kushedya Hari Yudo. 

Para penyerang pilihan Shin ini ternyata tak tajam di Piala AFF. Meski demikian, mereka masuk dalam skema Shin yang ingin para pemain depannya menekan sejak dari garis pertahanan lawan. Para striker membuka ruang, atau menjadi pemantul bagi lini kedua untuk mencetak gol.

Indonesia kemudian mencapai final, sehingga kritikan kepada Shin berguguran. Baru setelah Indonesia kalah dari Thailand di partai puncak, ada sebagian kecil lagi yang menyinggung absennya Spaso. Namun secara keseluruhan, meski saya tak punya data yang benar-benar valid atas hal ini, apresiasi diberikan kepada Shin karena mampu memoleh sejumlah pemain muda dalam timnya menjadi kekuatan menjanjikan. Patokan saya, kolom komentar di postingan sejumlah akun sepak bola lokal, baik Twitter, terutama Instagram.

Era media sosial (medsos) membuat pelatih dan manajemen tim olahraga jadi punya tugas tambahan memberi penjelasan kepada khalayak atas keputusan yang mereka ambil. Sebab, para penggemar bisa langsung 'bertamu' di kolom komentar setiap unggahan akun resmi tim tersebut. Entah itu klub profesional atau tim nasional. Medsos jadi sarana menyuarakan uneg-uneg langsung penggemar kepada timnya.

Terkadang pertanyaan, kritikan, atau usulan yang datang masuk akal. Namun tak sedikit yang hanya mengkritik atau mengeluh tanpa dasar kuat, hanya berdasarkan suka dan tak suka atau ketidaksabaran. Contoh yang paling segar tentu saja para Bobotoh yang sempat menyuarakan pelatih Robert Rene Alberts didepak. Alasannya hanya karena Persib kalah dari tim-tim besar pada awal musim.

Robert tak ambil pusing. Dia fokus pada pekerjaannya dan Persib kemudian jadi pesaing juara Liga 1 2021/2022. Nasib baik tak berpihak, Maung Bandung terganjal pada pekan-pekan akhir. Bali United yang kemudian muncul sebagai juara. Saya tak tahu apa yang ada di benak para pengkritik yang sebelumnya heboh menyuarakan #RobertOut tersebut. Sebab pencapaian Persib sebagai runner up Liga 1 musim ini dan lolos ke Piala AFC musim depan bukanlah sesuatu yang buruk.

Kondisi serupa terjadi di bola basket menjelang SEA Games 2022 di Hanoi, Vietnam. Saat Perbasi mengumumkan nama-nama pemain yang dipanggil mengikuti seleksi, sejumlah kritikan 'menyerbu' akun Instagram resmi Perbasi. Mayoritas mempertanyakan alasan Kaleb Ramot Gemilang tidak dipanggil ke dalam seleksi dan kenapa Kevin Yonas yang jarang bermain di klubnya kembali masuk.

Kaleb merupakan mesin poin Dewa United Surabaya di kompetisi IBL Tokopedia musim ini dengan rataan bermain 31,27 menit, rebound 5,45, steal 1,18, dan poin 15,55 per game. Tidak memanggilnya ke dalam seleksi jelas bukan keputusan yang popular. Sementara Kevin Yonas yang hanya rata-rata bermain selama 12,7 menit, menumbang 2,17 rebound, serta hanya mencatatkan 3,42 poin per game masuk. Kedua pemain ini berposisi hampir sama.

Sehari semalam pembahasan soal pemanggilan pemain ke timnas basket proyeksi SEA Games 2022 ini tak habis-habisnya di grup WA saya, yang berisi sejumlah wartawan pecinta olahraga, khususnya bola basket. Meski sama-sama mencintai bola basket, perbedaan pandangan menyikapi pemanggilan tersebut jadi dinamika menarik.

Saya yang sudah meliput bola basket nasional sejak 2003 dan kemudian sepak bola lokal dalam posisi tak punya kritik berlebihan kepada Perbasi, manajemen timnas, atau pelatih. Saya memang menyayangkan tidak dipanggilnya Kaleb. Namun setelah mengontak salah satu sosok internal di timnas basket, saya mendapatkan jawaban alasan tersebut.

Oh ya, timnas basket SEA Games akan ditangani oleh Milos Pejic, pelatih yang membawa Satria Muda juara IBL 2021. Milos pada musim 2022 menangani Indonesia Patriots, tim yang berisi pemain muda yang diproyeksikan menjadi tulang punggung timnas basket Indonesia pada masa depan. Sementara coach Rajko Toroman, yang dikritik setelah serangkaian penampilan timnas basket yang kurang menjanjikan selama 2,5 tahun terakhir, dialihkan menjadi direktur teknis.

Mengingat kembali penampilan Satria Muda di tangan Milos, saya memperkirakan ia ingin timnas basket bermain agresif dan cepat di SEA Games nanti. Sehingga, para pemain yang dipanggil diharapkan mampu mengeksekusi pola yang diinginkannya. Wajar saja kalau ia memanggil sejumlah pemain Satria Muda dan Indonesia Patriots. Sebab, ia tahu persis kelebihan dan kekurangan para pemain ini.

Bagi saya, pelatih punya hak prerogatif soal pemanggilan pemain, di cabang olahraga apa pun. Ia punya hak penuh. Andai pemain yang dipanggil merupakan 'bisikan' dari luar, itu lain cerita. Hasil akhir yang bisa membuat pelatih dihakimi.

Pelatih bisa dikritisi dan jadi santapan empuk jika gagal berprestasi setelah membuat keputusan tak populer. Misalnya Tjetjep Firmansyah pada SEA Games 2003 yang menggunakan matoritas para pemain Aspac yang dilatihnya dengan hanya tambahan Pek Khing Day, I Made Sudiadnyana, dan Rony Gunawan dari klub lain. Timnas basket kala itu tak mendapatkan medali setelah dua tahun sebelumnya merebut perak. Tjetjep beruntung medsos belum ada saat itu. Kritikan praktis hanya datang dari awak media.

Fictor Roring berbeda nasib. Saat menjadi pelatih timnas basket untuk SEA Games 2007, ia tak membawa Denny Sumargo dan Riko Hantono, pemain bintang di kompetisi lokal kala itu. Ito, sapaannya, menjawab keraguan dengan mempersembahkan perak. 

Wahyu Widayat Jati juga melakukan hal serupa pada SEA Games 2017. Ia memasukkan sejumlah penggawa muda dan tidak membawa sejumlah pemain senior. Indonesia kemudian meraih perak. Wahyu sekarang menjadi asisten Milos.

Jadi sejak dulu sampai kapan pun, pro kontra terhadap pemanggilan pemain dalam cabang olahraga beregu akan selau muncul. Seorang teman mantan manajer klub basket yang kini menangani salah satu klub sepak bola Liga 1 mengirimkan pesan menyetujui pendapat saya ini. "Apa pun itu selalu pro kontra di mana pun. Yang semua nggak komplain sepertinya pas pemilihan Dream Team 1992 USA," kata dia merujuk timnas basket Amerika Serikat yang diperkuat Michael Jordan pada Olimpiade 1992.

Tim asuhan Chuck Daly itu selalu menang dengan skor triple digit dan meraih emas di Barcelona setelah mengalahkan Kroasia 117-85 di final.

Yang mungkin perlu dilakukan induk olahraga atau manajemen timnas dari cabang olahraga apa pun pada era medsos ini adalah meningkatkan respons atas masukan, kritikan, atau pertanyaan yang mampir di akun mereka. Seperti timnas basket contohnya, ada baiknya Perbasi menjelaskan secara ringkas di akun medsos mereka tentang pertanyaan-pertanyaan yang hadir seputar pemanggilan. Ini sedikit banyak akan mengurangi tekanan kepada manajemen dan juga pemain yang dipanggil.

Jika penjelasan tidak diterima, itu perkara lain. Setidaknya, ada usaha untuk menjaga pemain dan pelatih bisa fokus bekerja mencapai target mereka tanpa terdistraksi oleh suara-suara di medsos. Contoh terdekat adalah menjelaskan alasan Kaleb tidak dipanggil.

Akhirnya, saya berharap Milos meraih perak seperti target pemerintah. Kalau bisa emas, lebih baik lagi.

Saya berharap, Hanoi tidak kembali menjadi mimpi buruk untuk basket kita. Sebab saat timnas basket babak belur pada 2003, SEA Games berlangsung di Hanoi. Semoga Hanoi kali ini lebih ramah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA