Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

China Akui Perjuangan Hadapi Covid-19 Masih Berat dan Rumit

Jumat 25 Mar 2022 19:38 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Warga mengantre untuk tes Covid-19 di Beijing, China. Pemerintah mengatakan situasi virus Corona di China

Warga mengantre untuk tes Covid-19 di Beijing, China. Pemerintah mengatakan situasi virus Corona di China "berat dan rumit".

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
China masih berjibaku dengan wabah terburuk Covid-19 yang disebabkan varian omicron

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Pejabat kesehatan China mengatakan Negeri Tirai Bambu masih berjibaku dengan wabah terburuk Covid-19 yang disebabkan varian omicron. Pemerintah mengatakan situasi virus Corona di China "berat dan rumit".

Dalam konferensi pers Jumat (25/3/2022) pemerintah Cina mengatakan sejak 1 Maret lalu jumlah kasus infeksi di negara itu sudah bertambah 56 ribu lebih. Lebih dari setengahnya dilaporkan terjadi di timur laut Provinsi Jilin dan termasuk kasus tanpa gejala.

"China terus berupaya untuk meraih dinamika Covid-nol dalam jangka pendek, sebab ini masih merupakan strategi yang paling efektif dan ekonomis dalam menghadapi Covid-19," kata pakar penyakit menular di Pusat Penyakit Menular China, Wu Zunyou, Jumat (25/3/2022).

"Hanya dengan melakukan dinamika Covid-nol kami bisa mengeliminasi bahaya tersembunyi epidemi, menghindari kehabisan sumber daya medis yang dapat disebabkan penularan skala besar dan mencegah tingginya angka kemungkinan kematian pada orang lanjut usia atau yang memiliki penyakit bawan," tambah Wu.  

Strategi Covid-nol mengandalkan karantina total atau lockdowns dan tes massal. Kontak dekat pasien Covid-19 biasanya segera dikarantina di rumah atau fasilitas yang disediakan pemerintah. Strategi ini fokus menghilangkan penularan di masyarakat secepat mungkin terkadang dengan menutup total seluruh kota.

Pekan lalu Presiden China Xi Jinping mengakui dampak tindakan ketat tersebut. Ia mengatakan China harus mencari cara mengendalikan virus yang "efeknya maksimal" tapi "biaya minimal." Sejak itu pejabat pemerintah China menekankan akan memastikan pendekatan dan pembatasan mereka sesuai sasaran.  

Contohnya, kata pejabat senior Komisi Kesehatan Nasional Jiao Yahui, pihak berwenang menyesuaikan tes massal sehingga tidak perlu melibat seluruh kota. Hanya pemukiman atau wilayah spesifik di mana virus kemungkinan menyebar.

Pemerintah khawatir pada kelompok usia di atas 60 tahun dan meminta mereka segera melakukan vaksinasi. Data pemerintah pusat Cina menunjukkan pekan lalu lebih dari 52 juta orang masyarakat berusia 60 tahun ke atas belum divaksin.

Angka vaksinasi booster atau penguat juga rendah, hanya sekitar 56,4 persen bagi kelompok usia 60 sampai 69 tahun. Sementara hanya 48,4 persen bagi kelompok usia 70 sampai 79 tahun.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA