Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

UNHCR: Dana Zakat Jangkau Jutaan Pengungsi di Berbagai Negara Setiap Tahun  

Kamis 24 Mar 2022 07:51 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nashih Nashrullah

Logo UNHCR. UNHCR menyatakan dana zakat mempunyai peran penting dalam membantu para pengungsi

Logo UNHCR. UNHCR menyatakan dana zakat mempunyai peran penting dalam membantu para pengungsi

Dana zakat mempunyai peran penting dalam membantu para pengungsi

REPUBLIKA.CO.ID, UNHCR: JAKARTA – Zakat memiliki peran cukup signifikan dalam penanganan krisis pengungsi di dunia. Lembaga-lembaga filantropi Islam menjadi mitra yang diharapkan dapat membantu pekerjaan Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR). 

Pada 2019, UNHCR meluncurkan program “UNHCR Refugees Zakat Fund”. Penghimpunan dana lewat program tersebut telah membantu lebih dari 4,3 juta orang yang kehilangan tempat tinggal di seluruh dunia, khususnya di Asia, Afrika, dan kawasan Timur Tengah serta Afrika Utara. 

Baca Juga

Memasuki 2020 dan 2021, dampak masif pandemi Covid-19 turut menyodorkan tantangan bagi kerja UNHCR. Di tengah situasi kritis tersebut, UNHCR mengapresiasi kedermawanan dan dukungan lebih dari 40 mitra filantropi Islam mereka di seluruh dunia. 

“Ini telah memungkinkan UNHCR menyalurkan zakat dan sedekah ke lebih dari 1,2 juta penerima manfaat di 14 negara. Menyediakan bantuan yang menyelamatkan jiwa untuk memenuhi kebutuhan mendesak,” ungkap penasihat senior UNHCR untuk filantropi Islam, Khalid Khalifa, dalam sambutannya di acara “UNCHR Islamic Philanthropy 2022 Annual Report” yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (23/3/2022). 

Kendati demikian, dalam konteks adanya 86 juta pengungsi, di mana hampir 60 persennya berasal dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), kebutuhan kemanusiaan sedang melonjak. 

“Hari ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada mitra kunci kami di Asia. Lebih dari 10 institusi Islam, baik umum maupun swasta, telah maju mendedikasikan zakat dan sedekah untuk pengungsi di Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Yordania, dan Suriah,” kata Khalifa. 

Untuk mitra di Indonesia, dia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Rumah Zakat. Khalifa pun menyampaikan hal serupa untuk Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP) di Malaysia dan Rahmatan lil Alamin Foundation di Singapura.

Deputy Director UNHCR Bernard Doyle turut berpartisipasi dalam acara “UNCHR Islamic Philanthropy 2022 Annual Report”. 

Dia mengungkapkan, saat ini masih banyak warga di seluruh dunia yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk menghindari perang, konflik, dan aksi atau tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Tugas UNHCR adalah memberikan bantuan dan mencarikan solusi untuk orang-orang tersebut.

“Solusi terpenting adalah mengembalikan mereka ke tempat asalnya, rumahnya sendiri. Tentu saja tidak ada organisasi yang bisa melakukan tugas kompleks semacam ini. Kita hanya bisa berhasil jika bermitra dengan pihak lain,” ucapnya.

Dia mengatakan, saat ini krisis pengungsi terjadi di banyak negara, antara lain Suriah, Afghanistan, Myanmar, Bangladesh, dan yang paling terbaru adalah Ukraina. Laporan terakhir menyebut, lebih dari 3,5 juta warga Ukraina telah mengungsi ke negara-negara tetangga untuk menghindari pertempuran yang sedang berlangsung dengan Rusia.

Menurut Doyle, krisis di Afghanistan merupakan krisis terburuk yang kini sedang terjadi di dunia. UNHCR memperkirakan, saat ini terdapat 3,4 juta orang terlantar di dalam Afghanistan dan lebih dari 2,2 juta lainnya melarikan diri ke negara-negara tetangga. Doyle mengungkapkan, situasi di negara tersebut sangat menyedihkan.

“Walaupun konflik telah mereda, situasi di Afghanistan merupakan krisis terburuk di dunia. Yang lebih buruknya adalah keruntuhan ekonomi di Afghanistan, yang mendorong semua warga ke jurang kemiskinan. Saat ini diperkirakan lebih dari 23 juta warga Afghanistan menghadapi tingkat kelaparan luar biasa. Angka itu separuh dari populasi negara tersebut,” kata Doyle.

Dia mengungkapkan, selama dekade ini UNHCR bekerja dengan rakyat Afghanistan dan para mitra untuk menyediakan bantuan penyelamatan jiwa di negara tersebut. UNHCR akan mempertahankan pekerjaan tersebut.

Kendati demikian, Doyle mengakui UNHCR tidak dapat bekerja sendirian. Inisiatif dari satu organisasi saja tidak akan mampu menangani atau mengatasi krisis pengungsi.

“Kami bergantung pada para mitra kami, termasuk para mitra dari umat Islam yang bersama kami hari ini. Kita harus memiliki kemitraan yang lebih kuat, karena kebutuhannya jauh melebihi dari solusi yang bisa kita berikan. Kompleksitas dari masalah kemanusiaan ini menjadi tantangan,” ujar Doyle.    

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA