Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

PBB: 780 Warga Sipil Tewas, Lebih dari 1.250 Warga Terluka dalam Perang di Ukraina

Jumat 18 Mar 2022 12:07 WIB

Red: Esthi Maharani

Jumlah kematian warga sipil yang tercatat sejak dimulainya perang Rusia di Ukraina telah mencapai 780 jiwa, sementara 1.252 lainnya terluka

Jumlah kematian warga sipil yang tercatat sejak dimulainya perang Rusia di Ukraina telah mencapai 780 jiwa, sementara 1.252 lainnya terluka

Kepala Palang Merah mendesak jalur yang aman bagi warga sipil yang dievakuasi

REPUBLIKA.CO.ID., JENEWA -- Jumlah kematian warga sipil yang tercatat sejak dimulainya perang Rusia di Ukraina telah mencapai 780 jiwa, sementara 1.252 lainnya terluka, kata Kantor Hak Asasi Manusia PBB pada Kamis (17/3/2022). Namun, angka tersebut diyakini jauh lebih rendah dari jumlah sebenarnya.

Pada saat yang sama, Badan Pengungsi PBB mengatakan hampir 3,17 juta – 3.169.897 – orang telah melarikan diri dari Ukraina sejak 24 Februari, dengan lebih dari 1,9 juta di antaranya, terutama wanita dan anak-anak, mengungsi ke Polandia.

Baca Juga

Lebih dari 491.000 orang telah melarikan diri ke Rumania, lebih dari 350.000 ke Moldova, hampir 283.000 ke Hongaria, dan lebih dari 229.000 ke Slovakia. Hampir 169.000 pengungsi juga telah pergi ke Rusia, menurut catatan PBB.

Permohonan mendesak dari Palang Merah

Peter Maurer, presiden Komite Internasional Palang Merah, yang saat ini berada di Ukraina, telah memperingatkan bahwa “penderitaan di Mariupol tidak boleh menjadi masa depan Ukraina.”

“Saya berada di Kiev minggu ini untuk mengajukan permohonan mendesak kepada pihak-pihak yang bertikai. Mereka adalah orang-orang yang dapat bertindak sekarang untuk memberikan kelonggaran nyata bagi warga sipil dan orang-orang yang tidak lagi terlibat dalam pertempuran,” ujar dia.

“Gambar-gambar baru yang memilukan dari Mariupol semakin menggarisbawahi bahwa korban konflik paling banyak adalah warga sipil,” tekan dia, mengacu pada kota pelabuhan tenggara yang menghadapi serangan berat Rusia.

Maurer mengatakan dirinya sedih melihat anak-anak naik bus ke tempat yang tidak diketahui alih-alih ke sekolah mereka.

“Kehancuran akibat konflik ini sangat luas. Bahkan tanpa gencatan senjata, ada langkah-langkah praktis yang harus diambil para pihak sekarang dengan menghormati hukum humaniter internasional untuk membatasi penderitaan warga sipil,” tegas dia.

Dia menyerukan kesepakatan konkret untuk memungkinkan warga sipil keluar dari kota-kota seperti Mariupol dengan aman.

“Warga sipil harus bisa meninggalkan area kekerasan. Rincian spesifik harus disepakati dan dibagikan secara luas,” tutur dia.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA