Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Ketua MUI: Keilmuan Harus Disandingkan dengan Keimanan

Ahad 13 Mar 2022 22:40 WIB

Red: Irwan Kelana

Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI), KH Cholil Nafis.

Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI), KH Cholil Nafis.

Foto: Dok IPB University
Keimanan harus diparalelkan dengan intelektualitas.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis hadir melalui virtual Zoom dalam peringatan Isra Mi’raj yang digelar IPB University, Kamis  (10/3). Dalam kesempatan ini, KH Cholil memberikan tausiyah terkait keilmuan yang bersanding dengan keimanan.

“Keilmuan harus disandingkan dengan keimanan. Ketika kita menuhankan akal, saat itu sebetulnya kita adalah orang yang paling hina,” ucapnya dalam Kajian Peringatan Isra Mi'raj dengan tema ”Isra Mi'raj sebagai Momentum Peningkatan Kualitas Diri" yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Hurriyyah IPB University.

Gambaran Isra Mi’raj yang dituangkan dalam ayat Al Isra, memberikan inspirasi bahwa ketika Allah SWT memulai ayatnya dengan Subhanalladzi, itu menunjukkan Mahasuci Allah yang tidak berkurang apapun.

“Jadi ini menunjukkan bagaimana kejadian itu luar biasa, perjalanan tidak masuk akal pada waktu itu. Menunjukkan akal lebih kecil dari peristiwa keagamaan. Tidak bisa agama diukur dari akal. Jika kegiatan akademik memang diukur dari akal, memang wilayah rasional. Tapi tidak semua urusan agama bisa dirasionalkan karena akal lebih kecil daripada ajaran agama,” ucapnya  seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Menurutnya, posisi akal dalam pemahaman Islam itu untuk memahami agama. Jangan sampai digunakan untuk menghakimi agama.  “Ada keterbatasan akal untuk memahami agama,” tandasnya.

Ia menambahkan, dalam ayat tersebut disebutkan juga dari masjid ke masjid. Masjid di awal-awal Islam merupakan tempat belajar, mencari ilmu, berinteraksi.

“Saat ini banyak yang urusan masjid tidak ada hubungannya dengan kampus. Padahal dalam Islam, membangun peradaban itu dari masjid. Jadi jika ingin membangun kualitas diri, maka masjidnya yang harus dikembangkan. Jika kita membangun intelektualitas akan tetapi dijauhkan dari masjid maka tunggulah kehancurannya,” tambahnya.

Menurutnya, kepandaian itu memupuk kesombongan. "Fakta yang terjadi Indonesia, begitu kaya dengan sawit tetapi kekurangan minyak goreng. Kita juga kaya akan sumber pangan, akan tetapi impor pangan. Untuk itu, tidak cukup punya ilmu tetapi harus punya hati. Tidak cukup punya kepandaian tetapi juga harus punya keimanan,” imbuhnya.  

Ia melanjutkan, keimanan harus diparalelkan dengan intelektualitas. Jika yang dipupuk hanya intelektualitasnya, maka akan menjadi orang pintar tetapi tidak benar.

“Tapi kita juga tidak bisa menjadikan orang benar tetapi tidak pintar. Dia tidak akan bisa berkembang. Keilmuan kita juga kita integrasikan dengan keimanan dan membangun peradaban,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor IPB University Prof Arif Satria dalam sambutannya mengatakan bahwa momentum Isra Mi’raj ini adalah momentum peningkatan kualitas diri. Menurutnya, tema ini sangat relevan.

“Salah satu pesan Isra Mi’raj adalah mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu instrumen yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas diri. Kualitas diri tercermin dari hubungan kepada Allah, manusia dan alam. Tiga triangle yang sangat penting dalam menjalankan hidup menjadi manusia terbaik,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Hurriyyah IPB University, Dr Abdul Munif menyampaikan acara peringatan Isra Mi’raj ini merupakan salah satu rangkaian dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA