Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Pejabat Uni Eropa Sebut Taktik Rusia di Ukraina Sama Seperti di Suriah

Jumat 11 Mar 2022 09:15 WIB

Red: Esthi Maharani

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan  melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS).  Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan Rusia mengebom kota tanpa mempedulikan korban sipil karena perlawanan Ukraina menggagalkan rencana invasi Rusia - Anadolu Agency

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell  mengatakan bahwa tentara Rusia membom kota-kota Ukraina tanpa mempertimbangkan jatuhnya korban sipil seperti yang terjadi di Suriah dan Chechnya.

Berbicara pada rapat pleno Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, Borrell mengatakan perang Rusia-Ukraina akan berakhir tetapi “akan meninggalkan bekas dalam sejarah.”

Baca Juga

Dia menjelaskan bahwa otoritas Rusia telah merencanakan untuk segera mengambil alih Kiev dan kota-kota lain. Moskow juga percaya bahwa “Ukraina lemah dan budak,” tetapi “perlawanan yang kuat” menghentikan mereka.

“Sebagai tanggapan, tentara Rusia melakukan satu-satunya hal yang diketahuinya. Ini adalah pengeboman seperti yang terjadi di Aleppo, di seluruh Suriah dan di Chechnya,” kata Borrell baru-baru ini, mengatakan Rusia akan melakukan operasinya “tanpa mempedulikan korban sipil.”

Menurut Borrell, perang di Ukraina adalah “seruan untuk membangunkan mimpi kita tentang pembangunan dan kemakmuran” dan orang Eropa harus memahami bahwa “cara hidup kita memang membutuhkan biaya.”

Borrell mencatat bahwa blok tersebut harus meningkatkan pengeluaran pertahanannya dan “memutuskan ikatan energi yang melumpuhkan kita” dan tidak boleh membiarkan Rusia “mempersenjatai saling ketergantungan.”

Dia juga mengatakan bahwa setelah aneksasi ilegal Krimea, Uni Eropa (UE) seharusnya secara permanen mengurangi impor energi dari Rusia, tetapi justru sebaliknya.

Sekarang, dibutuhkan “komitmen kolektif” dari Eropa untuk mengkonsumsi lebih sedikit energi dan berinvestasi dalam energi terbarukan. Selain sanksi, perang Rusia di Ukraina telah menuai kecaman internasional dan mendorong keluarnya perusahaan global dari Rusia.

Uni Eropa sebelumnya mengadopsi tiga paket sanksi terhadap Rusia, menargetkan antara lain Presiden Rusia Vladimir Putin, Menlu Sergey Lavrov, menghapus tujuh bank Rusia dari sistem perbankan internasional SWIFT, dan melarang kegiatan penyiaran media Sputnik dan RT.

Baca juga : Harga Minyak Dunia Turun karena Rusia Berjanji Penuhi Kewajiban Kontrak Pasokan

Komisi Eropa pada Selasa mengusulkan rencana untuk mengganti dua pertiga impor gas Rusia hingga akhir tahun dengan mempercepat transisi energi blok tersebut ke energi terbarukan.

Setidaknya 474 warga sipil telah tewas dan 864 lainnya terluka di Ukraina sejak awal perang pada 24 Februari, menurut angka PBB. Lebih dari 2,1 juta orang juga telah meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga, menurut data badan pengungsi PBB.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA