Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

 Khofifah: Santri Miliki Skill yang Dibutuhkan Industri Masa Depan

Selasa 08 Mar 2022 13:35 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Agung Sasongko

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Pendidikan di pondok pesantren mengajarkan seluruh santrinya mampu memecahkan permasalahan

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Pendidikan di pondok pesantren mengajarkan seluruh santrinya mampu memecahkan permasalahan

Foto: Dokumen.
Pendidikan di pondok pesantren mengajarkan seluruh santrinya mampu memecahkan permasa

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berpendapat, pendidikan di pondok pesantren mengajarkan seluruh santrinya mampu memecahkan permasalahan yang kompleks dengan cara-cara yang kreatif (complex problem solving). Pendekatan yang digunakan, selain pendekatan sains, juga dengan pendekatan religiusitas seperti Sholat Istikharoh.

"Dalam pendekatan industri masa depan, complex problem solving merupakan kebutuhan tertinggi. Mulai dari kompleksitas masalah, ekosistem yang tiba-tiba berubah, kepastian mencari jawaban, banyak sektor terdisrupsi, dan sebagainya. Ternyata semua hal itu solusinya banyak ditemukan di pesantren," kata Khofifah, Selasa (8/3).

Baca Juga

Khofifah mengatakan, kemampuan mengatasi masalah yang kompleks didapatkan santri setiap hari melalui berbagai bentuk kajian. Mulai kitab kuning, kajian sosial kemasyarakatan serta keagamaan, dan istiqomah ibadah yang dilakukan. 

Berbagai kajian tersebut, lanjut Khofifah, melatih para santri mampu menghadapi masalah dengan tenang, mengidentifikasi solusi dengan detail, dan berpegang teguh pada sisi referensi keagamaan. "Maka kalau diurai betul, mereka bisa memiliki kemampuan skill complex problem solving ini dengan terus mengasahnya tiap hari," ujarnya. 

Khofifah pun mengajak para santri untuk mengamalkan apa yang mereka peroleh di pesantren untuk membina dan menjaga masyarakat, menjaga agama, dan menjaga negara. Sebab, kata dia, di tengah krisis pandemi Covid-19 dan tantangan ekonomi, skill yang mereka miliki akan sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan kepastian dan ketenangan hidup.

"Memang betul bahwa kita butuh transformasi digital. Tapi bagaimana kita harus menyelaraskan dengan dakwah bil lisan, dakwah bil maal, dakwah bil haal, dan dakwah bil IT. Ini yang kemudian harus kita lakukan ntuk masyarakat, agama, bangsa, dan negara," kata dia.

Khofifah berharap, pendekatan complex problem solving di pondok pesantren bisa diintegrasikan ke permasalahan hidup masyarakat lainnya. Dimana, orang-orang dapat menyelesaikan masalah dengan metode serupa. Lebih luas lagi dalam mencari solusi berbagai kompleksitas masalah bangsa dan negara.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA