Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Negara Muslim Terbelah Sikapi Invasi Rusia ke Ukraina, Indonesia?

Jumat 04 Mar 2022 17:45 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah

Pemandangan pusat kota rusak setelah serangan udara Rusia di Chernigiv, Ukraina, Kamis, 3 Maret 2022. Pasukan Rusia telah meningkatkan serangan mereka di kota-kota yang padat dalam apa yang disebut pemimpin Ukraina sebagai kampanye teror terang-terangan.

Pemandangan pusat kota rusak setelah serangan udara Rusia di Chernigiv, Ukraina, Kamis, 3 Maret 2022. Pasukan Rusia telah meningkatkan serangan mereka di kota-kota yang padat dalam apa yang disebut pemimpin Ukraina sebagai kampanye teror terang-terangan.

Foto: AP/Dmytro Kumaka
Voting sikapi invasi Rusia ke Ukraina di PBB picu sikap dunia Islam terbelah

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV — Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memberikan suara atas invasi Rusia ke Ukraina. 

Menurut hasil pemungutan suara di Majelis Umum PBB kemarin, negara-negara Muslim tampaknya terpecah. 

Baca Juga

Dilansir dari 5Pillars pada Jumat (4/3/2022), sebanyak 29 negara Muslim menuntut agar Rusia segera mengakhiri operasi militernya di Ukraina, sedangkan satu negara Muslim menolak, dan 19 abstain atau tidak memilih sama sekali. 

Negara-negara Muslim yang memberikan suara mendukung adalah Afghanistan, Albania, Bahrain, Bosnia-Herzegovina, Brunei, Chad, Komoro, Pantai Gading, Djibouti, Mesir, Gambia, Indonesia, Yordania, Kuwait, Lebanon, Libya, Malaysia, Maladewa, Mauritania, Niger, Nigeria, Oman, Qatar, Arab Saudi, Somalia, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yaman. 

Sedangkan satu negara Muslim yang menolak yaitu Suriah. Suriah sebelumnya telah mengundang pasukan Rusia ke negara itu untuk memerangi pemberontak, memberikan suara menentang. 

Kemudian 18 negara Muslim yang tidak memilih antara lain Aljazair, Bangladesh, Iran, Irak, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Mali, Pakistan, Senegal, Sudan, Tajikistan, Azerbaijan, Burkina Faso, Guinea-Bissau, Maroko, Togo, Turkmenistan dan Uzbekistan. 

Pada akhirnya resolusi tersebut dengan mudah dilaksanakan dengan total 141 negara memberikan suara mendukung, sehingga menegaskan kembali kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Ukraina. 

Presiden Majelis Abdulla Shahid berjuang untuk membaca hasil pemungutan suara ketika para duta besar mulai bertepuk tangan, dan kemudian berdiri, ketika dia mulai berbicara. 

Shahid mengatakan resolusi tersebut mencerminkan keprihatinan serius masyarakat internasional tentang situasi di Ukraina. 

“Saya bergabung dengan negara-negara anggota dalam menyatakan keprihatinan tentang laporan serangan terhadap fasilitas sipil seperti tempat tinggal, sekolah dan rumah sakit, dan korban sipil, termasuk wanita, orang tua, penyandang cacat, dan anak-anak,” katanya. 

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, menyatakan bahwa dia berkewajiban untuk mendukung resolusi tersebut. “Pesan Majelis Umum sangat keras dan jelas: Akhiri permusuhan di Ukraina sekarang. Diamkan senjatanya sekarang. Buka pintu dialog dan diplomasi sekarang,” tegas Guterres. 

Sekjen PBB menekankan perlunya bertindak cepat karena situasi di Ukraina mengancam untuk menjadi jauh lebih buruk. Seraya menambahkan, bahwa setiap menit adalah berharga karena jam yang terus berdetak itu adalah bom waktu. 

“Ke depan, saya akan terus melakukan segala daya saya untuk berkontribusi pada penghentian segera permusuhan dan negosiasi mendesak untuk perdamaian,” kata Guterres. 

“Orang-orang di Ukraina sangat membutuhkan perdamaian dan orang-orang di seluruh dunia menuntutnya,” ujarnya kepada wartawan.

 

Sumber: 5pillarsuk  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA