Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Prof Haedar Nashir Prihatin dengan Perang Rusia dan Ukraina

Jumat 04 Mar 2022 13:10 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
PP Muhammadiyah sangat prihatin dengan peperangan Rusia dan Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menerangkan, perang Rusia dan Ukraina bukan masalah agama. Sehingga umat Islam tidak perlu terpengaruh oleh provokasi dan propaganda kedua belah pihak yang berusaha mencari dukungan politik internasional. "Peperangan Rusia dan Ukraina bukanlah karena masalah agama," kata Haedar di Yogyakarta, Jumat (4/3/2022).

Oleh karena itu, kata Haedar, masyarakat serta umat Islam hendaknya tetap menjaga kerukunan dan persatuan dengan tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. PP Muhammadiyah, menurut dia, sangat prihatin dengan peperangan Rusia dan Ukraina yang tidak sekadar menimbulkan kerusakan fasilitas publik, tetapi juga korban jiwa, baik yang meninggal dunia maupun luka-luka.

Baca Juga

"Sebagian korban adalah masyarakat sipil. Peperangan bukanlah jalan keluar menyelesaikan masalah," ucap Haedar. Dia mendesak kedua belah pihak untuk dapat melakukan gencatan senjata dan mencoba mencari solusi damai melalui meja perundingan.

Selain itu, dia juga mendesak Dewan Keamanan PBB, melakukan langkah untuk mengakhiri peperangan karena akan menimbulkan masalah yang kompleks, baik ekonomi, politik, kemanusiaan, perdamaian global, maupun masalah lainnya. PP Muhammadiyah, kata Haedar, memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang telah membuat seruan agar pertempuran diakhiri.

"Akan tetapi, pemerintah Indonesia hendaknya bisa lebih aktif dan proaktif terlibat dalam penyelesaian peperangan Rusia dan Ukraina, dan berbagai dampak yang ditimbulkannya," ujar guru besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut.

Pada era tatanan dunia baru yang menjunjung demokrasi dan perdamaian, menurut dia, semestinya dibangun hubungan antarnegara dan bangsa yang lebih adil serta saling menghormati. "Menjauhkan tindakan hegemoni dalam bentuk apa pun karena pada dasarnya semua negara dan bangsa di muka bumi ini memiliki kesetaraan," ucap Haedar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA