Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Pidato Kenegaraan Tunjukan Persatuan dan Perpecahan Politik AS

Rabu 02 Mar 2022 12:25 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Pidato Kenegaraan pertama Presiden Joe Biden di Gedung Capitol, Selasa 1 Maret 2022.

Pidato Kenegaraan pertama Presiden Joe Biden di Gedung Capitol, Selasa 1 Maret 2022.

Foto: Shawn Thew/Pool via AP
Masih jelas terlihat adanya perpecahan bahkan di antara faksi Partai Demokrat.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Anggota Parlemen Amerika Serikat (AS) menghadiri Pidato Kenegaraan pertama Presiden Joe Biden di Gedung Capitol yang dijaga ketat pasukan keamanan. Sejumlah anggota Kongres mengenakan pita kuning dan biru sebagai bentuk solidaritas pada Ukraina yang di invasi Rusia.

Untuk pertama kalinya anggota Kongres AS diundang ke ruang sidang House of Representative sejak pandemi Covid-19 dan serangan pendukung mantan Presiden Donald Trump pada 6 Januari tahun lalu. Kini masker tidak lagi wajib tapi pagar-pagar kawat yang mengelilingi gedung mengingatkan kembali serangan pendukung Trump tersebut.

Baca Juga

Biden memulai pidatonya dengan krisis di Ukraina yang menyatukan dua partai. Tapi masih terlihat jelas perpolitikan AS masih terpecah belah.

"Saya pikir setiap warga di negara ini paham apa yang terjadi di dunia berdampak langsung dengan apa yang terjadi di sini," kata anggota House dari Partai Demokrat, Val Demings sebelum Biden berpidato, Rabu (2/3/2022).  

Pidato Kenegaraan biasanya disampaikan pada bulan Januari untuk memberi kesempatan pada pemerintah menyampaikan agendanya setahun ke depan. Tradisi yang dimulai George Washington dalam pesan tertulis lebih 200 tahun yang lalu.

Pidato Kenegaraan pertama Biden dilatari dengan perang di Eropa setelah Rusia dengan brutal menyerang Ukraina. Serta setelah Partai Demokrat kalah dalam sejumlah pemungutan suara di Capitol Hill.

Peserta yang hadiri lebih banyak dibandingkan 200 orang ketika peraturan pembatasan sosial Covid-19 diberlakukan dengan ketat. Tapi lebih sedikit dibandingkan 1.600 orang yang biasanya hadir. Anggota parlemen biasanya diizinkan membawa satu tamu undangan khusus.

Duta Besar Ukraina untuk AS Oksana Makarova dan mantan pegawai Facebook yang membongkar dampak buruk media sosial itu Frances Haugen turut hadir sebagai tamu undang Ibu Negara Jill Biden. Sejumlah anggota parlemen Partai Republik tidak datang.

Senator Marco Rubio mengatakan ia tidak ingin terlibat dalam "teater" virus corona. Sebab semua orang yang hadir wajib melakukan tes Covid-19 dan menerapkan protokol kesehatan. Beberapa anggota Partai Demokrat yang positif Covid-19 juga tidak hadir untuk melakukan isolasi mandiri.

Biden memulai pidatonya dengan fokus pada krisis Ukraina yang menyatukan kedua belah pihak dalam perpolitikan Amerika, yang jarang terjadi akhir-akhir ini. Tapi dalam Pidato Kenegaraan itu masih jelas terlihat adanya perpecahan bahkan di antara faksi Partai Demokrat sendiri.

Politisi Partai Demokrat, Senator Joe Manchin yang hampir menjadi satu-satunya orang di partainya yang menolak agenda "Build Back Better" Biden duduk di sisi Partai Republik. Dalam pidatonya Biden membanggakan kebangkitan ekonomi dan rendahnya angka pengangguran.

Sementara Partai Republik diperkirakan akan menyerangnya mengenai tingkat inflasi yang mencapai angka tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Republik diperkirakan juga akan mengkritik buruknya penarikan pasukan AS di Afghanistan dan kebijakan-kebijakan Covid-19 seperti masker dan vaksin.

"Mandatnya hanya untuk memerintah dari tengah, dalam pidato pelantikannya Biden berjanji hanya melakukan itu: Untuk bersatu dan untuk pulih, tapi dalam satu tahun terakhir ia dan pemerintahnya kerap berperilaku akan gagal pada ujian mereka sendiri," kata ketua Partai Republik di Senat Mitch McConnell.

McConnell bergabung dengan anggota Partai Republik di House yang meminta Biden "memperbaiki arah" setelah apa yang mereka sebut "tahun pengeluaran yang ceroboh."

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA