Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Muslimah Nigeria dan Upaya Membangun Kesetaraan dengan Fashion

Rabu 23 Feb 2022 04:13 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko

Pelajar Muslimah Nigeria

Pelajar Muslimah Nigeria

Foto: nytimes
Muslimah Nigeria bangun keseteraan melalui fesyen.

REPUBLIKA.CO.ID, ABUJA -- Di timur laut Nigeria, sebuah wilayah di pusat konflik jihadis selama lebih dari satu dekade, cara berpakaian seorang wanita berada di bawah pengawasan khusus. Sebagian besar wanita Muslim di kota utama Maiduguri, tempat kelahiran Boko Haram, percaya bahwa agama meminta mereka untuk menutupi rambut mereka dengan jilbab yang biasanya dipasangkan dengan gaun yang menjulur ke bawah.

Seberapa tebal atau panjang jilbab, seberapa longgar atau ketat, semuanya terbungkus dalam persepsi budaya tentang bagaimana seorang wanita utara harus berpakaian seperti itu. Di ujung sana ada para jihadis, yang terobsesi dengan kontrol terhadap wanita.

Baca Juga

Ideologi puritan mereka menyatakan, perempuan sebagian besar harus tetap berada di rumah, dan ketika keluar di depan umum, sebisa mungkin tidak dikenali. Namun, generasi baru wanita di timur laut menolak keyakinan hiper-maskulin itu.

Berpakaian sopan adalah pilihan mereka. Ekspresi identitas agama mereka bukan aturan berpakaian yang diperintahkan oleh para jihadis dan bukan seperti yang dilihat beberapa orang tentang jilbab. Di antara generasi baru ini adalah empat wanita muda yang mencoba melakukan perubahan yang sedang berlangsung di timur laut melalui mode. Keempatnya ialah Aisha Muhammad, Fatima Lawan, Samira Othman, dan Zainab Sabo.

Zainab mengatakan, di sekitar area stasiun kereta api, gadis-gadis muda tidak bebas bergerak selama masa Boko Haram. Perempuan yang menjalankan bisnis roti ini mengatakan, Boko Haram datang dengan sesuatu yang baru yang sangat ekstrem. Mereka memaksakan pandangan mereka pada orang-orang.

"Sekarang berbeda dengan 10 tahun lalu (ketika Boko Haram aktif di Maiduguri). Saat itu akan ada stigma bahwa Anda tidak berpakaian dengan benar," kata Aisha, seorang pekerja LSM setempat. "Tapi sekarang saya mengenakan kerudung kecil saya, dan saya merasa bebas," ucapnya.

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA