Tuesday, 12 Jumadil Awwal 1444 / 06 December 2022

India Panggil Dubes Korsel Atas Pernyataan Soal Kashmir

Selasa 08 Feb 2022 20:42 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Dua orang anak lelaki berjalan di jalanan Srinagar, Kashmir, Senin (7/2/2022).

Dua orang anak lelaki berjalan di jalanan Srinagar, Kashmir, Senin (7/2/2022).

Foto: AP Photo/Mukhtar Khan
Mitra Hyundai di Pakistan mengunggah pernyataan yang menyinggung India.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- India memanggil duta besar (dubes) Korea Selatan (Korsel) untuk menyatakan kekecewaan atas unggahan media sosial oleh salah satu mitra Hyundai Motor di Pakistan, Grup Nishat. Unggahan tersebut mengungkapkan bahwa Pakistan berdiri untuk solidaritas dengan rakyat Kashmir yang berjuang untuk menentukan nasib sendiri.

"Ketidaksenangan pemerintah yang kuat atas unggahan media sosial yang tidak dapat diterima oleh Hyundai Pakistan disampaikan kepadanya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Arindam Bagchi.

Baca Juga

"Ditegaskan bahwa masalah ini menyangkut integritas teritorial India yang tidak dapat dikompromi. Kami berharap perusahaan mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah ini dengan benar," ujarnya menambahkan.

Menteri Luar Negeri India dan Korsel juga dikatakan sudah berbicara melalui telepon mengenai hal ini. "Menteri Luar Negeri Korea Selatan Chung Eui-yong menyatakan penyesalannya selama percakapan dengan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, kata Bagchi.

Seperti diketahui India dan Pakistan menguasai sebagian Kashmir. Namun keduanya mengeklaim wilayah Himalaya secara penuh.

Perselisihan komentar ini meletus pada Ahad (6/2), sehari setelah Pakistan menandai Hari Solidaritas Kashmir tahunan. Unggahan atas nama mitra Hyundai, Grup Nishat, muncul di Twitter, Facebook, dan Instagram untuk memperingati apa yang digambarkan sebagai pengorbanan warga Kashmir yang berjuang untuk menentukan nasib sendiri.

India mengatakan Pakistan mendukung pemberontakan bersenjata melawan pemerintahan New Delhi di Kashmir yang dikuasai India yang pecah pada 1990. Pakistan menyangkal tuduhan itu dan mengatakan pihaknya hanya memberikan dukungan diplomatik dan moral bagi rakyat Kashmir.

Sebelumnya, Hyundai mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pihaknya sangat menyesalkan setiap pelanggaran yang dilakukan kepada orang India dengan adanya unggahan media sosial dari akun mitranya di Pakistan. "Sebagai kebijakan bisnis, Hyundai Motor Company tidak mengomentari masalah politik atau agama di wilayah tertentu," kata Hyundai dalam sebuah unggahan Twitter.

Grup Nishat, konglomerat bisnis terbesar Pakistan, tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters. Hyundai adalah penjual mobil terbesar kedua di India setelah Maruti Suzuki. Perusahaan tersebut menjual hampir setengah juta kendaraan di negara itu pada tahun fiskal terakhir dan mengekspor lebih dari satu juta unit, menjadikannya eksportir mobil terbesar di India.

Ratusan orang di media sosial menuntut perusahaan itu meminta maaf karena tidak peka terhadap kekhawatiran India. Yang lain mengatakan mereka membatalkan pesanan mobil mereka.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA