Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Iran Tepis Tuduhan Maroko Terkait Upaya Penyebaran Syiah di Afrika

Rabu 02 Feb 2022 23:34 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

Seorang wanita Iran berjalan melewati bendera nasional negara tersebut.

Seorang wanita Iran berjalan melewati bendera nasional negara tersebut.

Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Krisis diplomatik antara Iran dan Maroko meletus pada 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Kementerian Luar Negeri Iran menepis tuduhan Maroko negaranya  berencana menyebarkan syiah di negara-negara Afrika. Pernyataan ini dijelaskan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh pada konferensi pers dan menyebut klaim oleh Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita tidak berdasar.

Pada Januari, Bourita memperingatkan komite parlemen Afrika tentang upaya Iran menyebarkan pengaruhnya di Afrika. Ia bahkan bersumpah melindungi keamanan spiritual Afrika dari Syiah.

Baca Juga

"Iran berencana memasuki Afrika Barat dan menyebarkan doktrin di kawasan itu," katanya kepada komite, dilansir dari The New Arab, Rabu (2/1).

Negara-negara Afrika Barat Sub-Sahara adalah rumah bagi komunitas Lebanon yang cukup besar, yang mencakup pendukung selatan Hizbullah dan memiliki kepentingan bisnis di industri pertambangan.

Bourita juga menuduh Iran ikut campur masalah di wilayah tersebut melalui gerakan Ansarullah yang didukung Teheran (juga dikenal sebagai Houthi) di Yaman. Kelompok bersenjata tersebut melakukan serangkaian serangan terhadap Arab Saudi dan UEA sejak awal intervensi militer pimpinan Saudi terhadap mereka pada tahun 2015. Ansarullah yang menargetkan UEA dengan rudal dan drone pada tiga kesempatan pada bulan Januari m 

Maroko adalah sekutu Riyadh dan Abu Dhabi. Maroko dan UEA baru-baru ini menormalkan hubungan dengan Israel, musuh regional utama Iran, melalui Kesepakatan Abraham yang ditengahi AS.

"Dukungan Maroko untuk Uni Emirat Arab [setelah apa yang mereka] menjadi sasaran adalah pesan yang jelas untuk mengecam pelanggaran Houthi dan kebijakan Iran di belakang mereka," kata Bourita.

Krisis diplomatik antara Teheran dan Rabat meletus pada 2018, ketika Maroko menuduh Iran menggunakan kelompok Hizbullah Lebanon untuk melatih pejuang separatis Front Polisario di Sahara Barat. Tuduhan yang dibantah baik Teheran maupun Hizbullah.  Rabat belum menunjukkan bukti klaimnya.

“Memperbarui konflik empat tahun melalui tuduhan di media adalah bahasa peringatan Rabat, menunjukkan kesiapannya untuk bereaksi jika perlu,” Mehdi Rais, seorang ahli Maroko dalam hubungan internasional, mengatakan kepada The New Arab.

Rais menambahkan Maroko khawatir tentang Iran karena hubungan baik Republik Islam dengan Aljazair, yang mendukung Front Polisario. “Iran mungkin menggunakan program pelatihan untuk Polisario untuk menyerang daerah sensitif di kerajaan, mengikuti pendekatan yang sama dari Houthi yang didukung Teheran [dalam] serangan mereka di Arab Saudi dan Emirates,” kata Rais.

Beberapa negara Teluk Arab, termasuk Arab Saudi, Bahrain dan UEA, telah memutuskan atau menurunkan hubungan diplomatik dengan Iran. Mereka menuduh Teheran campur tangan di dalam negeri kawasan Timur Tengah.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA