Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Gubernur Kalteng Ajak Masyarakat Rawat Kebinekaan dan Kerukunan

Rabu 02 Feb 2022 01:48 WIB

Red: Hiru Muhammad

Petugas memasang lampion di Vihara Avalokitesvara Buddhayana, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (28/1/2022). Warga Tionghoa di wilayah tersebut mulai melakukan sejumlah persiapan dengan menghias vihara dan klenteng menggunakan aneka hiasan imlek untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2573 pada 1 Februari 2022.

Petugas memasang lampion di Vihara Avalokitesvara Buddhayana, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (28/1/2022). Warga Tionghoa di wilayah tersebut mulai melakukan sejumlah persiapan dengan menghias vihara dan klenteng menggunakan aneka hiasan imlek untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2573 pada 1 Februari 2022.

Foto: Antara/Makna Zaezar
Hanya dengan persatuan dan keebrsamaan kedamaian akan tercipta di bumi Tambun Bungai

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA--Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran mengajak masyarakat bersama-sama merawat kebhinnekaan dan kerukunan, tanpa melihat perbedaan suku, agama maupun budaya."Hanya dengan persatuan dan kebersamaan, kita akan mampu menciptakan kedamaian di Bumi Tambun Bungai, Bumi Pancasila Tanah Berkah Kalteng," katanya saat dihubungi di Palangka Raya, Selasa (1/2).

Bersamaan dengan momen peringatan Tahun Baru Imlek 2022, gubernur mengucapkan selamat kepada masyarakat yang merayakan, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah."Untuk saudara-saudaraku, saya atas nama pribadi, keluarga maupun pemprov mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek, semoga kedamaian dan kesejahteraan selalu dilimpahkan kepada kita semua," ucapnya.

Baca Juga

Sementara itu Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM dan Advokasi pada Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Tengah Suriansyah Halim mengatakan pihaknya mengapresiasi sikap Gubernur Sugianto Sabran dan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Agustiar Sabran yang menunjukkan sikap serta semangat toleransi."Kami mengapresiasi perhatian yang selama ini diberikan, baik secara moril maupun materiil," katanya.

Keduanya dianggap berkontribusi, di antaranya memberi kesempatan menyediakan tempat dan izin merias wajah Istana Isen Mulang dan Bundaran Besar Palangka Raya untuk perayaan Tahun Baru Imlek 1 Februari 2022 hingga Cap Go Meh 15 Februari 2022. Pada perayaan Tahun Baru Imlek ini terpasang berbagai hiasan Imlek, seperti angpau, pemasangan lentera, lampion, pohon jeruk kumkuat, pohon bunga sakura, hiasan nanas, hingga hiasan gantungan."Rencananya akan tetap terpasang sepanjang perayaan Tahun Baru Imlek di Kalteng, yaitu sampai perayaan yang biasa disebut Cap Go Meh," ujarnya.

Halim memaparkan, Imlek maupun Cap Go Meh merupakan ungkapan syukur dan harapan atas berkat pada masa yang lalu dan yang akan datang. Kendati Imlek menjadi perayaan besar bagi warga Tionghoa, namun di Indonesia Imlek juga dirayakan bagi masyarakat pada umumnya.

Bahkan pada penutupan perayaan Tahun Baru Imlek 2022, rencananya akan ada atraksi barongsai di Bundaran Besar. Barongsai melambangkan kebijaksanaan, keberuntungan, pesona, kekayaan, kekuatan dan kepemimpinan."Sehingga perayaan Tahun Baru Imlek di tahun ini bukan hanya dirasakan warga Tionghoa, tetapi juga warga di Palangka Raya maupun Kalimantan Tengah," ucapnya.

Halim yang juga Ketua Penegak Hukum Rakyat Indonesia (PHRI) di Kalteng dan Ketua Perkumpulan Pengacara dan Konsultan Hukum Indonesia (PPKHI) Palangka Raya mengaku bangga dengan Sugianto Sabran dan Agustiar Sabran. Keduanya dinilai telah bekerja sama memberikan kesempatan dan mengizinkan halaman depan Rumah JabatanGubernur Kalteng menjadi tempat perayaan bagi semua agama dan suku.

Sebelumnya dari agama lainnya, mulai dari perayaan Idul Fitri hingga Natal dapat terpasang di depan rumah jabatan gubernur itu. "Sekarang kebudayaan dari warga Tionghoa dalam perayaan Imlek sampai Cap Go Meh juga dapat terpasang," katanya.

Menanggapi hal tersebut Agustiar Sabran saat dihubungi di Palangka Raya mengatakan hal ini sebagai implementasi dari semangat toleransi yang tinggi, baik oleh pemerintah, masyarakat dan pihak lainnya yang ada di Kalimantan Tengah."Kita harus hidup saling berdampingan, rukun dan saling menghargai antara satu dan lainnya, berlandaskan Falsafah Huma Betang," kata tokoh yang juga anggota DPR RI dari Dapil Kalteng tersebut.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA