Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

AS Prediksi Rusia Dapat Serang Ukraina pada Pertengahan Februari

Jumat 28 Jan 2022 05:05 WIB

Red: Nur Aini

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) pada Rabu (26/1/2022) mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dapat menggunakan kekuatan militer di Ukraina pada pertengahan Februari di tengah eskalasi ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) pada Rabu (26/1/2022) mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dapat menggunakan kekuatan militer di Ukraina pada pertengahan Februari di tengah eskalasi ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Olimpiade Beijing dapat mempengaruhi waktu penggunaan kekuatan militer di Ukraina

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) pada Rabu (26/1/2022) mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dapat menggunakan kekuatan militer di Ukraina pada pertengahan Februari di tengah eskalasi ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

"Saya tidak tahu apakah dia (Putin) sudah membuat keputusan akhir, tetapi kami pasti melihat setiap indikasi bahwa dia akan menggunakan kekuatan militer suatu saat, mungkin sekarang dan pertengahan Februari," kata Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman.

Baca Juga

Pernyataan itu dibuat di forum virtual Strategi Eropa Yalta di mana dia mengatakan Olimpiade Beijing dimulai pada 4 Februari dan Putin diperkirakan akan berada di sana.

"Saya pikir mungkin Presiden Xi Jinping tidak akan senang jika Putin memilih saat itu untuk menyerang Ukraina. Jadi itu bisa mempengaruhi waktu dan pemikirannya," kata Sherman.

Baca: Keterisian Tempat Tidur RS Covid-19 Sentuh 45%, Dinkes DKI: Masih Aman

Baca: Ditemukan Kasus Covid-19 di Satu Sekolah, PTM 100 Persen di Solo Jalan Terus

Baca: Kasus Harian Covid-19 Tembus di Atas 8.000, DKI Jakarta Tertinggi

Dia mengatakan Putin tidak ingin Ukraina masuk ke NATO, "tetapi tindakannya membuat rakyat Ukraina lebih ingin masuk ke NATO."

"Kami ingin mendukung Ukraina. Kami tidak akan melakukan apa pun terkait Ukraina tanpa Ukraina," tambah dia.

Rusia baru-baru ini mengumpulkan 100.000 tentara di dekat Ukraina, memicu kekhawatiran bahwa Kremlin dapat merencanakan serangan militer baru terhadap negara bekas tetangga Sovietnya. Moskow membantah sedang bersiap untuk menyerang dan mengatakan pasukannya ada di sana untuk latihan. Sebaliknya, Rusia mengeluarkan daftar tuntutan keamanan kepada NATO, termasuk Ukraina tidak bergabung dengan NATO, untuk menenangkan ketegangan yang ada.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA