'Penurunan Harga Minyak Goreng Belum Berlaku Merata'

Rep: My41/ Red: Fernan Rahadi

Warga membeli sembako di Kios Segoro Amarta, Pasar Kranggan, Yogyakarta, Kamis (13/1). Kios pengendali harga pasar ini merupakan kerjasama dari Bulog dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Yogyakarta. Fungsi kios ini untuk menjaga inflasi daerah di bawah empat persen. Beras, minyak goreng, tepung terigu, dan gula menjadi produk yang diburu warga saat ini karena harga yang lebih rendah dari pasaran.
Warga membeli sembako di Kios Segoro Amarta, Pasar Kranggan, Yogyakarta, Kamis (13/1). Kios pengendali harga pasar ini merupakan kerjasama dari Bulog dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Yogyakarta. Fungsi kios ini untuk menjaga inflasi daerah di bawah empat persen. Beras, minyak goreng, tepung terigu, dan gula menjadi produk yang diburu warga saat ini karena harga yang lebih rendah dari pasaran. | Foto: Wihdan Hidayat / Republika

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah mulai menurunkan harga minyak goreng menjadi Rp 14 ribu per liter sejak Rabu (19/1). Harga minyak ini turun dari yang sebelumnya dibanderol sekitar Rp 20 ribu per liter. Menurut sebagian pedagang maupun pembeli di pasaran, harga ini dirasa memberatkan mengingat minyak goreng senantiasa dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Namun, informasi mengenai penurunan harga minyak ini masih terdengar simpang siur di masyarakat. Hal ini dikarenakan, program satu harga belum diterapkan secara merata mulai hari ini. Sehingga, banyak warga menilai kondisi di lapangan tidak sesuai dengan aturan pemerintah.

"Kebanyakan warga tidak terlalu paham soal isi berita sehingga banyak yang termakan hoaks, karena isi berita tidak sesuai dengan yang ada di lapangan," kata Salomo (20), distributor perusahaan ritel.

Lebih lanjut, penurunan harga minyak goreng menjadi Rp 14 ribu adalah untuk minyak subsidi. Sedangkan untuk minyak goreng non-subsidi masih terbilang mahal, yaitu kisaran Rp 20 ribu per liter. 

“Belum diberlakukan satu harga dan tidak akan mungkin diberlakukan satu harga apa pun kemasannya (sederhana dan premium),” kata Salomo.

Sementara itu, menurut keterangan Salomo (20), program satu harga diterapkan pada setiap pembeli mulai pekan  ini. Sebagai langkah pertama dalam menyediakan minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu, pemerintah pun akan melakukannya melalui ritel modern yang menjadi anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). 

Kendati demikian, kebanyakan toko ritel masih takut untuk mengulak minyak goreng dengan adanya berita yang dinilai masih simpang siur. Jika hal buruk terjadi, maka akan terjadi kekosongan minyak di mana-mana.

“Kebanyakan toko ritel takut untuk kulakan minyak karena berita yang menghebohkan ini, tetapi itu berdampak buruk karena akan terjadi kekosongan minyak di mana-mana,” tutur Salomo, yang merupakan distributor CV SYLM Jaya.

Sementara itu, berdasarkan survei Republika hari ini, beberapa warung belum mulai menerapkan program satu harga.

"Belum turun harga kok, masih sama saja. Saya juga nggak tahu kapan turunnya,” kata salah satu pemilik warung di daerah Terban, Yogyakarta.

Sedangkan untuk pasar tradisional sendiri diberikan waktu selama satu pekan untuk melakukan penyesuaian harga.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Aprindo Sediakan Minyak Goreng Rp 14 Ribu per Liter Mulai Hari Ini

Mempertanyakan Kesiapan Subsidi Minyak Goreng di Bulan Ramadhan

Minyak Goreng di Jombang Ludes dalam Beberapa Jam 

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Pembeli Minyak Goreng Rp 14 Ribu di Lampung Dibatasi Dua Liter

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark