Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Menkes: 1.121 Juta Dosis Vaksin Kedaluwarsa Dominan Hasil Donasi

Rabu 19 Jan 2022 06:06 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Andi Nur Aminah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (ilustrasi)

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (ilustrasi)

Foto: ANTARA/Galih Pradipta
Dari 1,121 juta dosis ini, 98 persen adalah vaksin dari donasi gratis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 1.121 juta dosis vaksin kedaluarsa per Desember 2021. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebagian besar yang kedaluarsa merupakan hasil donasi gratis.

"Jadi vaksin expired kita sampai bulan Desember itu ada 1,121 juta dosis. Dari 1,121 juta dosis ini 1,1 jutanya adalah vaksin donasi gratis, 98 persen dari donasi gratis," kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga

Budi juga menjelaskan alasan Indonesia banyak menerima vaksin donasi dari negara lain lantaran kemampuan vaksinasi di Indonesia tinggi. Ia mengungkapkan bahwa tadinya vaksin donasi tersebut akan dikirimkan ke Afrika. Namun rendahnya vaksinasi di Afrika dan sulitnya cold chain di sana, sehingga menyebabkan banyak vaksin di Afrika yang kadaluarsa.

"Jadi negara-negara yang ngasih kemudian kan enggak happy, dia cari negara mana yang suntiknya cepat, itu Indonesia," ujarnya.

Adapun jenis vaksin donasi yang paling banyak diterima Indonesia dari negara lain antara lain AstraZeneca, Pfizer, dan Moderna. Menkes juga mengungkapkan, biasanya vaksin donasi yang diterima Indonesia adalah vaksin yang masa penggunaannya tinggal satu-tiga bulan lagi jelang kedaluarsa.

"Dan itu expired date-nya berkisar antara satu hingga tiga bulan sehingga kita mesti cepat suntik. Itu sebabnya banyak yang kena kemarin 1,1 juta. Berdasarkan pengalaman itu, kita sekarang agak memilih, kalau bisa at least tiga bulan, tetapi image Indonesia sebagai negara yang vaksinasinya cepat, itu jadi kalau ada negara maju yang tinggal satu dua bulan lagi pasti dia tawarnya ke Indonesia," jelasnya.

"Dan selama ini posisi kita masih usahakan ambil karena biar bagaimana itu vaksin gratis dan itu adalah vaksin-vaksin bagus yang bisa kita berikan ke rakyat kita," imbuhnya. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA