Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Jerman Gertak Rusia Bila Ambil Aksi Agresif ke Ukraina

Selasa 18 Jan 2022 04:30 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang tentara Ukraina berjalan di parit di garis pemisah dari pemberontak pro-Rusia, wilayah Donetsk, Ukraina, Ahad 9 Januari 2022.

Seorang tentara Ukraina berjalan di parit di garis pemisah dari pemberontak pro-Rusia, wilayah Donetsk, Ukraina, Ahad 9 Januari 2022.

Foto: AP/Andriy Dubchak
Jerman mengingatkan Rusia akan membayar mahal jika berani menyerang Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN --  Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock berharap ketegangan dengan Rusia atas Ukraina dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi. Tetapi ia memperingatkan Moskow akan menderita bila menyerang Ukraina.

"Rusia akan membayar mahal setiap tindakan agresifnya, baik dari sisi ekonomi, strategis, politik," kata Baerbock saat berkunjung ke Kiev, Senin (17/1/2022).

Baca Juga

"Diplomasi satu-satunya cara," tambahnya dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba.

Perundingan antara Moskow dan negara-negara Barat mengenai pengerahan puluhan ribu pasukan Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina yang digelar pekan lalu berakhir tanpa penyelesaian. Sementara serangan siber pada Ukraina semakin memanaskan ketegangan.

Kuleba mengatakan, Ukraina dan Jerman mendorong pembicaraan damai empat arah yang bertujuan mengakhir perang di timur Ukraina yang dikenal sebagai format "Normandy". Perundingan itu terdiri dari Jerman, Prancis, Ukraina, dan Rusia.

Ukraina yang tidak terlibat dalam perundingan pekan lalu berulang kali mendapat penegasan dari sekutu-sekutunya. Tidak akan ada keputusan mengenai masa depan negara itu yang diambil tanpa keterlibatan dan persetujuan Ukraina.

"Untuk saat ini penting bagi kami baik Berlin maupun Paris tidak mengambil keputusan mengenai Ukraina tanpa Ukraina, dan tidak bermain di belakang kami saat berhubungan dengan Rusia, itu kuncinya saat ini," kata Kuleba dalam konferensi pers.

"Karena itu saya ingin berterima kasih pada Annalena untuk mengambil sikap prinsipil," tambahnya.

Jerman membantu Ukraina dengan mengirimkan bantuan dan dukungan diplomatik dalam ketegangan dengan Moskow. Hal itu dilakukan, sejak Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea dan mendukung separatis di daerah Donbass pada 2014 lalu.

Namun masih ada sejumlah hal yang bertentangan. Ukraina menentang pipa gas Nord Stream 2 yang akan mengirimkan gas dari Rusia ke Jerman dengan melewati Ukraina. Baerbock mengatakan, saat ini operasi pipa gas itu masih ditahan dan tidak memenuhi undang-undang energi Eropa.

Baca juga : Mahasiswi Muslim India Dilarang Masuk Kelas karena Tolak Lepas Jilbab

Kiev juga mengecam penolakan Berlin untuk menjual senjata ke Ukraina. Dalam wawancara dengan media Jerman sebelum kunjungan Baerbock ke Ukraina, Duta Besar Ukraina untuk Jerman menyebut keputusan itu "sangat pahit dan membuat frustasi".

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA