Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

WHO: Omicron Mungkin Jadi Penyebab Lonjakan Kasus di Mediterania Timur

Jumat 14 Jan 2022 11:26 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

 Seorang pengawas menyemprotkan sterilizer ke tangan siswa di Damaskus, Suriah. Kasus Covid-19 di Mediterania Timur melonjak 89 persen pada pekan pertama Januari. Ilustrasi.

Seorang pengawas menyemprotkan sterilizer ke tangan siswa di Damaskus, Suriah. Kasus Covid-19 di Mediterania Timur melonjak 89 persen pada pekan pertama Januari. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/YOUSSEF BADAWI
Kasus Covid-19 di Mediterania Timur melonjak 89 persen pada pekan pertama Januari

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Lonjakan "mengejutkan" kasus Covid-19 di kawasan Mediterania Timur menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemungkinan disebabkan oleh varian omicron, kata pejabat terkait. Ia memperingatkan sejumlah negara di kawasan itu masih mencatat tingkat vaksinasi yang sangat rendah.

Kasus di kawasan tersebut melonjak 89 persen pada pekan pertama Januari. "Namun, angka kematian turun 13 persen," kata direktur kawasan WHO Ahmed Al-Mandhari, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga

Sebanyak 15 dari mayoritas 22 negara Timur Tengah di kawasan itu resmi melaporkan varian omicron yang sangat menular. "Meski omicron tampaknya menyebabkan gejala yang lebih ringan ketimbang (varian sebelumnya) delta, terutama pada orang-orang yang sudah divaksin, tidak berarti varian ini boleh diremehkan, sebab (omicron) terus menyebabkan rawat inap dan kematian," katanya.

Mandhari mengatakan, enam negara di kawasan itu, yakni Afghanistan, Djibouti, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman telah memvaksin kurang dari 10 persen dari populasi mereka meski otoritas setempat memiliki persediaan vaksin yang mencukupi untuk melindungi hingga 40 persen populasi. Sampai saat ini baru 36 negara di seluruh dunia yang mempunyai tingkat vaksinasi yang sama rendahnya, menurut WHO.

Mandhari menyebutkan program vaksinasi dikacaukan oleh sejumlah masalah termasuk minimnya komitmen politik, ketidakamanan, dan tantangan logistik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA