Kamis 13 Jan 2022 16:48 WIB

Piala Afrika 2021 Dibayangi Teror Kelompok Separatis

Kerusuhan membuat parade promosi Piala Afrika dilakukan dengan keamanan ekstra ketat.

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Endro Yuwanto
Seorang pejtugas yang mengenakan alat pelindung diri dari Covid-19 menyemprot bola sepak dengan disinfektan sebelum pertandingan sepak bola grup F Piala Afrika 2022 antara Mauritania dan Gambia di Limbe Omnisport Stadium di Limbe, Kamerun, Rabu, 12 Januari 2022. Selain ancaman Covid-19, penyelenggaraan Piala Afrika kali ini juga dibayang-bayangi teror kelompok separatis.
Foto: AP/Sunday Alamba
Seorang pejtugas yang mengenakan alat pelindung diri dari Covid-19 menyemprot bola sepak dengan disinfektan sebelum pertandingan sepak bola grup F Piala Afrika 2022 antara Mauritania dan Gambia di Limbe Omnisport Stadium di Limbe, Kamerun, Rabu, 12 Januari 2022. Selain ancaman Covid-19, penyelenggaraan Piala Afrika kali ini juga dibayang-bayangi teror kelompok separatis.

REPUBLIKA.CO.ID, LIMBE -- Penyelenggaraan Piala Afrika 2021 tetap berjalan meski berada di bawah bayang-bayang kelompok separatis anti-pemerintah Kamerun. Kelompok bersenjata itu bahkan sempat menutup tempat latihan timnas Mali di Kota Limbe, bagian barat daya Kamerun.

Namun, timnas Mali tetap berlaga melawan Tunisia di laga pembuka babak penyisihan Grup F, Kamis (13/3/2022) dini hari WIB.

Baca Juga

"Timnas Mali membatalkan latihan dan meninggalkan Stadion Molyko," bunyi laporan Kantor Berita Kamerun yang dikutip Daily Mail, Rabu (12/3/2022).

Dalam laporan itu, terdapat korban dua orang tewas dan lima lainnya luka-luka akibat kontak senjata antara kelompok separatis bernama Ambazonia dengan aparat pemerintahan.

"Dua warga sipil (pria) ditemukan tewas di Buea Central Market akibat baku tembak antara Ambazonia dan pasukan pemerintah," lanjut laporan itu.  

Bagian barat Kamerun diberitakan sedang dalam kondisi tegang dengan konflik antara kelompok warga yang berbahasa Inggris dan kelompok pro-pemerintah berbahasa Prancis. Saat ini, Kamerun menggunakan bahasa Prancis sebagai salah satu bahasa resminya.

Kerusuhan membuat parade promosi Piala Afrika harus dilakukan dengan keamanan ekstra ketat. Orang yang memakai kostum maskot Piala Afrika, Mola the Lion, bahkan harus menggunakan rompi anti-peluru dan berjalan dengan kawalan pasukan militer.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement