Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Pengiriman Jamaah Umroh Perdana Jadi Pertaruhan

Ahad 16 Jan 2022 13:36 WIB

Red: Joko Sadewo

Pengiriman jamaah umroh perdana menjadi pertaruhan. Jika umroh perdana ini bermasalah maka pemberangkatan selanjutnya dipertaruhkan. Foto ratusan jamaah diberangkatkan ke tanah suci pada Ahad (1/11).

Pengiriman jamaah umroh perdana menjadi pertaruhan. Jika umroh perdana ini bermasalah maka pemberangkatan selanjutnya dipertaruhkan. Foto ratusan jamaah diberangkatkan ke tanah suci pada Ahad (1/11).

Foto: Prayogi/Republika
Jika umroh perdana ini bermasalah maka pemberangkatan selanjutnya dipertaruhkan.

Oleh : Esthi Maharani, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah menunggu dua tahun lamanya, jamaah umroh asal Indonesia akhirnya melakukan penerbangan perdana ke tanah suci pada 8 Januari 2022. Pengiriman jamaah umroh Indonesia ini bisa dibilang pertaruhan yang sangat besar. Di saat negara-negara di dunia sedang mencegah penularan Omicron, Indonesia justru mengirimkan jamaahnya ke lokasi yang tingkat pemaparan kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan.

Dampak pertaruhan pemberangkatan jamaah ini sebenarnya sudah dialami oleh Malaysia. Negara tersebut telah beberapa kali mengirimkan jamaah ke tanah suci.  Sebagai informasi, mulai 13 Oktober 2021 jamaah umroh pertama asal Malaysia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan umroh  dan SOP khusus pelaksanaan umrah dikeluarkan oleh Dewan Keamanan Nasional (MKN) pada 18 Oktober 2021.

Hingga 30 Desember 2021, total jamaah umrah telah tiba di Malaysia sebanyak 11.108 orang dan 1.306 di antaranya atau 11,76 persen dinyatakan positif Covid-19. Dari jumlah tersebut, 592 dinyatakan positif pada tes pertama pada hari kedatangan di Malaysia dan 714 kasus dinyatakan positif Covid-19 pada tes kedua yang dilakukan pada hari kelima karantina.

Per 31 Desember 2021, dua kasus Covid-19 dikonfirmasi varian Omicron, menjadikan jumlah total varian tersebut menjadi 64 kasus. Sebanyak 63 di antaranya melibatkan pelancong dan satu kasus dugaan infeksi lokal.

Pada pekan lalu, Kementerian Kesehatan Malaysia mendeteksi 122 kasus Omicron di antara jamaah umroh yang kembali ke negara itu. Mereka mengatakan menemukan 14 persen dari pelancong ini tidak memiliki catatan vaksinasi. Ada tudingan bahwa mereka memalsukan catatan vaksinasi Covid-19 demi bepergian ke Arab Saudi.

Meski tak secara tegas menyebut jamaah umroh yang membawa Omicron, tetapi ada kemungkinan jamaah umroh telah terinfeksi selama berada di Arab Saudi tetapi masih dalam masa inkubasi infeksi sehingga menyebabkan tes penyaringan sebelum kembali ke Malaysia masih negatif. Hal ini ditambah dengan banyaknya kedatangan umroh Malaysia yakni sekitar 800 hingga 1.000 sehari semakin meningkatkan risiko masuknya kasus Covid-19 dan varian Omicron ke negara jiran tersebut.

Kementerian Kesehatan Malaysia juga mengatakan banyak peziarah yang kembali gagal mematuhi peraturan karantina rumah yang dibuat oleh pemerintah. Karena itu, Kementerian Kesehatan menangguhkan perjalanan bagi peziarah Muslim ke Arab Saudi mulai 8 Januari untuk mengekang penyebaran Omicron.

Kini, Malaysia harus berjibaku dengan meningkatnya kasus Omicron yang diduga mayoritas berasal dari Arab Saudi. Penundaan sementara kegiatan umroh diharapkan dapat membantu mengurangi risiko penularan Omicron di Malaysia dan memperlambat peningkatan kasus Covid-19. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat memberikan kesempatan dan ruang bagi pemerintah untuk melakukan perencanaan dan persiapan yang matang dalam pengelolaan jamaah umrah sebelum kegiatan umroh dapat dilakukan kembali.

Berkaca dari Malaysia, Indonesia bisa melakukan antisipasi lebih dini terkait perjalanan umroh perdana ini dan potensi masuknya varian Omicron. Apalagi Kementerian Kesehatan RI sudah mengkonfirmasi bahwa secara kumulatif kasus Omicron paling banyak berasal dari Turki dan Arab Saudi.

Penyelenggara ibadah haji dan umroh dan pemerintah harus dapat menunjukkan integritas dengan memastikan perjalanan umroh bisa berjalan sesuai prosedur. Jamaah umroh pun harus pula sadar diri untuk mematuhi persyaratan yang diperlukan seperti vaksinasi hingga penerapan protocol kesehatan yang sangat ketat.

Jangan lupa, Omicron memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan varian Delta. Sejak ditemukan pertama kali pada 24 November 2021 di Afrika Selatan, kini Omicron telah terdeteksi di lebih dari 110 negara dan diperkirakan akan terus meluas. Di level nasional, pergerakan Omicron juga terus meningkat sejak pertama kali dikonfirmasi pada 16 Desember 2021.

Kewaspadaan individu harus terus ditingkatkan untuk menghindari potensi penularan Omicron. Protokol kesehatan 5M dan vaksinasi harus berjalan beriringan sebagai kunci untuk melindungi diri dan orang sekitar dari penularan Omicron.

Catatan penting lainnya, keberhasilan pemberangkatan perdana jamaah umroh ini akan menjadi tolok ukur untuk evaluasi umroh dan haji 2022. Artinya, apabila pemberangkatan perdana ini mengalami sedikit saja kesalahan, maka nasib jamaah yang sudah antri umroh ataupun haji akan jadi pertaruhan. Yang lebih penting lagi, jangan sampai jamaah umroh nantinya dituding jadi penyebab masuknya varian Omicron ke tanah air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA